"NU Tidak Membutuhkan Kita", Pesan Menyentuh Ketua PBNU tentang Keikhlasan dalam Berkhidmah

"NU Tidak Membutuhkan Kita", Pesan Menyentuh Ketua PBNU tentang Keikhlasan dalam Berkhidmah © mili.id

Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi

Mili.id – Di tengah dinamika organisasi yang kerap diwarnai perebutan peran, jabatan, dan pengakuan, Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi, menyampaikan pesan mendalam tentang makna keikhlasan dalam mengabdi kepada Nahdlatul Ulama (NU).

Melalui tulisan berjudul "NU Tidak Membutuhkan Kita", pria yang akrab disapa Gus Fahrur itu mengingatkan warga nahdliyin agar tidak pernah merasa bahwa kebesaran NU bergantung pada kehadiran seseorang.

Baca juga: Dukungan untuk Lirboyo Menguat, PCNU Indonesia Timur Dorong Mukhtamar NU ke-35 Digelar di Pesantren

Menurutnya, NU telah berdiri kokoh jauh sebelum generasi saat ini hadir. Organisasi yang didirikan para ulama pada 1926 itu tumbuh dari perjuangan panjang, doa-doa para kiai, serta pengorbanan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

"Jangan pernah merasa bahwa NU menjadi besar karena kehadiran kita. Sebab sebelum kita datang, NU telah berdiri. Dan ketika kelak kita pergi, NU akan tetap berjalan," tulisnya, di berbagai group Whattsapp, Minggu(14/6/2026).

Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi seluruh kader dan pengurus agar tidak terjebak dalam rasa paling berjasa terhadap organisasi. Sebaliknya, setiap insan yang berkhidmah di NU diajak untuk merenungkan berbagai nikmat yang diperoleh selama berada dalam lingkungan organisasi tersebut.

Mulai dari ilmu yang didapat, persaudaraan yang terjalin, hingga kesempatan beramal yang terbuka melalui berbagai aktivitas keagamaan dan sosial.

Dalam tulisannya, Gus Fahrur menegaskan bahwa jabatan hanyalah amanah yang bersifat sementara. Nama dan popularitas pun suatu saat akan hilang ditelan waktu. Namun keikhlasan dalam mengabdi akan tetap bernilai di hadapan Allah SWT.

"Jabatan hanyalah persinggahan. Nama hanyalah tulisan yang suatu saat akan terhapus oleh waktu. Tetapi keikhlasan akan tetap hidup di hadapan Allah, meski tidak dikenal oleh manusia," ungkapnya.

NU Akan Tetap Berdiri
Pada bagian penutup tulisannya, Gus Fahrur menggambarkan sebuah kenyataan yang tak dapat dihindari setiap aktivis organisasi. Suatu saat, seseorang mungkin tidak lagi duduk dalam kepengurusan, tidak lagi hadir dalam rapat, bahkan namanya perlahan terlupakan.

Baca juga: LF PBNU Rilis Data Hilal Zulhijah 1447 H, Iduladha 2026 Berpotensi Serentak 27 Mei

Namun, NU akan tetap bergerak menjalankan perannya di tengah masyarakat.

Masjid tetap ramai dengan adzan yang berkumandang, para santri tetap mengaji di pesantren, tradisi tahlil tetap dilestarikan, dan doa-doa para ulama terus mengalir untuk bangsa dan negara.

"Pada akhirnya, bukan NU yang kehilangan kita. Kitalah yang beruntung pernah diberi kesempatan berjalan di bawah naungan NU," tulisnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati bukanlah tentang mencari penghargaan atau pengakuan, melainkan tentang menanamkan nilai-nilai perjuangan para ulama dengan penuh kerendahan hati.

Seruan untuk Tetap Rendah Hati
Melalui refleksi tersebut, Gus Fahrur mengajak seluruh warga NU untuk menjaga adab dalam berorganisasi dan menjadikan keikhlasan sebagai fondasi utama dalam setiap bentuk pengabdian.

Baca juga: Muktamar ke-35 NU Jadi Penentu Arah Abad Kedua, 14 Nama Kandidat Ketum Mengemuka

Ia menegaskan bahwa setiap kader hanyalah bagian kecil dari sejarah panjang Nahdlatul Ulama yang telah berusia satu abad lebih. Namun sekecil apa pun peran yang dijalankan, apabila dilakukan dengan tulus, akan bernilai besar di sisi Allah SWT.

"Datang tanpa merasa paling berjasa. Pergi tanpa merasa paling kehilangan," pesannya.

Tulisan itu pun mendapat perhatian luas karena dinilai menyentuh sisi spiritual sekaligus menjadi pengingat bagi siapa saja yang aktif dalam organisasi kemasyarakatan maupun keagamaan. Bahwa yang abadi bukanlah nama, jabatan, atau kedudukan, melainkan keberkahan perjuangan dan keikhlasan dalam mengabdi.

Sebuah pesan sederhana, namun sarat makna: organisasi akan terus berjalan, sementara manusia datang dan pergi. Yang tersisa adalah amal dan jejak pengabdian yang dilakukan dengan hati yang tulus.

Editor : Muhammad



Berita Terkait