Mili.id-Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Muktamar ke-35 pada Juli atau Agustus 2026 dinilai menjadi momentum krusial bagi arah masa depan organisasi. Muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan berlangsung di ambang perjalanan abad kedua Nahdlatul Ulama.
Peneliti Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara), Wildan Efendy, menyebut momentum ini sebagai “kekayaan NU”. Menurutnya, Muktamar ke-35 akan menjadi ruang strategis untuk menentukan siapa yang akan menahkodai PBNU pada periode mendatang, sekaligus menjawab arus besar pertanyaan publik terkait regenerasi kepemimpinan organisasi keagamaan terbesar di dunia tersebut.
Baca juga: "NU Tidak Membutuhkan Kita", Pesan Menyentuh Ketua PBNU tentang Keikhlasan dalam Berkhidmah
14 Nama Mengemuka
Insantara merilis sedikitnya 14 tokoh yang dinilai berpotensi besar berlaga dan terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Penentuan nama-nama tersebut didasarkan pada aspek popularitas, jalur sumber kandidat, serta hasil wawancara dengan pengurus dan warga NU di berbagai tingkatan.
Dari unsur PBNU, nama yang mengemuka antara lain Prof KH Nuh DEA, Yahya Cholil Staquf, Syaifullah Yusuf, dan KH Zulfa Mustofa.
Dari jajaran PWNU, muncul KH Abd Ghaffar Rozin, KH Abd Hakim Mahfudz, serta KH Juhadi Muhammad.
Sementara dari kalangan tokoh NU dan pesantren, terdapat KH Imam Jazuli, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, dan Marzuqi Mustamar.
Baca juga: Dukungan untuk Lirboyo Menguat, PCNU Indonesia Timur Dorong Mukhtamar NU ke-35 Digelar di Pesantren
Adapun dari unsur tokoh politik dan pemerintahan, nama Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, serta Nasaruddin Umar turut disebut dalam daftar kandidat potensial.
Arus Kuat Kepemimpinan Baru
Wildan menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan di tubuh NU bukan peristiwa biasa. Ia menyebut momen ini sebagai titik awal tanggung jawab besar jam’iyyah ulama untuk memperkuat tata kelola organisasi dan meningkatkan khidmat kepada umat.
Menurutnya, desakan transisi kepemimpinan PBNU menguat dari berbagai level, mulai PWNU, PCNU, hingga aspirasi warga NU di akar rumput. Tingginya dorongan tersebut dinilai sebagai indikator kuat keinginan lahirnya nakhoda baru yang lebih adaptif, berintegritas, dan relevan dengan tantangan zaman di abad kedua NU.
Baca juga: LF PBNU Rilis Data Hilal Zulhijah 1447 H, Iduladha 2026 Berpotensi Serentak 27 Mei
Tak hanya itu, Insantara juga merilis temuan bahwa sekitar 90 persen unsur struktural dan kultural NU menghendaki proses pemilihan dalam Muktamar ke-35 menggunakan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) secara penuh, baik untuk posisi Syuriyah maupun Tanfidziyah.
Dengan dinamika yang menguat, Muktamar ke-35 diprediksi menjadi salah satu perhelatan paling menentukan dalam sejarah NU—bukan hanya soal siapa terpilih, tetapi juga tentang arah besar organisasi memasuki abad keduanya.
Editor : Redaksi
