Mili.id– Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS ternyata belum berdampak signifikan terhadap kebiasaan masyarakat dalam merawat kendaraan. Pemilik kendaraan tetap melakukan servis secara rutin sesuai jadwal meskipun sejumlah komponen otomotif mengalami kenaikan harga akibat tingginya nilai tukar dolar.
Founder Anyar Motor, Bram, mengatakan aktivitas servis kendaraan di bengkelnya masih berjalan normal. Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat perubahan perilaku konsumen dalam melakukan perawatan kendaraan.
Baca juga: Rupiah Tertekan, BI Dipanggil DPR: Perry Warjiyo Hadiri Raker Komisi XI
“Tidak ada perubahan pola perawatan. Konsumen tetap datang sesuai jadwal servis seperti biasa,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Bram menjelaskan, dampak pelemahan rupiah lebih terasa pada kenaikan harga bahan dan suku cadang yang masih bergantung pada impor. Harga oli, misalnya, mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 17 persen sejak awal tahun. Sementara itu, bahan baku untuk perbaikan bodi kendaraan seperti cat, pernis, dan dempul mengalami kenaikan hingga 20 persen.
Meski biaya operasional meningkat, bengkel independen masih terus menerima pelanggan baru. Sebagian besar merupakan pemilik kendaraan yang masa garansi resminya telah berakhir sehingga memilih melakukan perawatan di bengkel umum dengan biaya yang lebih kompetitif.
Baca juga: Dolar AS Menguat ke Rp 16.806 pada Pembukaan Perdagangan
“Memang ada konsumen baru yang datang. Namun yang paling banyak adalah pemilik kendaraan yang masa garansinya sudah habis di bengkel resmi,” kata Bram.
Hal serupa diungkapkan Ardhi Setyo, salah satu pemilik kendaraan yang tengah melakukan perawatan kaki-kaki mobilnya yang telah digunakan selama enam tahun. Ia menilai perawatan kendaraan tetap harus dilakukan demi menjaga kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Untuk menghemat biaya, Ardhi memilih menggunakan komponen aftermarket yang dinilai memiliki kualitas cukup baik dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan suku cadang original.
Baca juga: Tahun 2024, TKA di Probolinggo Harus Bayar Dana Kompensasi Sebesar 100 Dolar Amerika
“Saat ini saya menggunakan produk aftermarket untuk komponen kaki-kaki kendaraan. Harganya lebih terjangkau dan kualitasnya juga tidak jauh berbeda,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan perawatan kendaraan masih menjadi prioritas bagi masyarakat. Meskipun harga beberapa komponen mengalami kenaikan akibat pelemahan rupiah, pemilik kendaraan tetap berupaya menjaga kondisi kendaraan mereka dengan berbagai pilihan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.
Editor : Redaksi
