Mili.id – Duka menyelimuti pelaksanaan ibadah haji tahun 2026. Sebanyak enam jemaah haji asal Embarkasi Surabaya dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan ibadah di Arab Saudi. Selain itu, dua calon jemaah lainnya wafat sebelum sempat berangkat menuju Tanah Suci.
Mayoritas jemaah yang meninggal dunia diketahui mengalami gangguan jantung dan pernapasan yang dipicu kondisi fisik menurun, kelelahan, serta cuaca panas ekstrem di Arab Saudi. Suhu udara di Makkah dan Madinah selama musim haji tahun ini dilaporkan mencapai 38 hingga 44 derajat Celsius.
Baca juga: Jemaah Haji Kloter 107 Asal Blitar Wafat Saat Menunaikan Ibadah Haji
Data Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya hingga 14 Mei 2026 mencatat, tiga dari enam jemaah yang wafat berasal dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Jemaah pertama yang meninggal dunia adalah Komariyah (85), warga Pasuruan yang wafat di Madinah pada 26 April 2026. Selanjutnya, Abdul Wahid dari Kloter 7 asal Pasuruan meninggal dunia di Makkah pada 7 Mei 2026.
Kemudian, Jumaiyah binti Abdul Ghofur dari Kloter 6 asal Pasuruan juga dilaporkan wafat di Makkah pada 13 Mei 2026.
Selain itu, seorang jemaah asal Jombang dari kloter awal juga meninggal dunia sesaat setelah tiba di Bandara Jeddah pada 9 Mei 2026. Dua jemaah lain yang meninggal di Arab Saudi diketahui merupakan lansia dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi dan sempat menjalani perawatan medis sebelum wafat.
Tidak hanya itu, dua calon jemaah haji lainnya juga meninggal dunia sebelum keberangkatan menuju Arab Saudi.
Salah satunya adalah Tini Atmin (56), calon jemaah asal Kloter 43 Kabupaten Gresik yang meninggal akibat sakit jantung saat menjalani perawatan di RSUD Haji Surabaya pada 14 Mei 2026.
Sementara satu calon jemaah lainnya, Abdul Kohar dari Kloter 6 asal Pasuruan, meninggal dunia di daerah asal setelah kondisi kesehatannya menurun menjelang jadwal keberangkatan.
Baca juga: Jamaah Haji Kloter 15 Maluku Utara Tiba di Tanah Air, Dua Jamaah Wafat di Tanah Suci
PPIH Embarkasi Surabaya menyebut kondisi cuaca panas ekstrem menjadi salah satu tantangan terbesar bagi jemaah haji tahun ini, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti jantung, hipertensi, maupun gangguan pernapasan.
Karena itu, petugas haji terus mengimbau seluruh jemaah agar menjaga kondisi tubuh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Kami meminta jemaah memperbanyak istirahat, menjaga asupan cairan, memakai alat pelindung diri, serta selalu membawa kartu nusuk saat beraktivitas di area Masjidil Haram,” ujar petugas haji dalam imbauannya.
Petugas medis juga meminta jemaah membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya saat siang hari ketika suhu udara berada di titik tertinggi. Penggunaan payung, masker, dan konsumsi air putih secara rutin dinilai penting untuk mencegah dehidrasi dan kelelahan berat.
Baca juga: Rangkaian Puncak Haji Berlanjut, Jutaan Jemaah Bergerak dari Arafah ke Mina
Selain itu, jemaah diimbau tidak memaksakan diri menjalankan ibadah sunnah di luar hotel apabila kondisi tubuh mulai lemah atau mengalami gejala gangguan kesehatan.
Cuaca panas di Makkah yang mencapai 44 derajat Celsius disebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius jika jemaah tidak menjaga kebugaran tubuh dengan baik.
PPIH Embarkasi Surabaya memastikan pemantauan kesehatan terhadap jemaah terus dilakukan secara intensif, khususnya bagi kelompok lansia dan jemaah risiko tinggi selama proses ibadah haji berlangsung.
Musim haji tahun ini pun menjadi pengingat penting bahwa kesiapan fisik dan kesehatan memiliki peran besar dalam menjalankan rangkaian ibadah di tengah kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi.
Editor : Redaksi
