Mili.id- Sejak berabad-abad lalu, wilayah Sumatra telah menjadi magnet bagi para pedagang dari Jazirah Arab yang berlayar jauh melintasi samudra.
Kedatangan mereka bukan tanpa tujuan, melainkan untuk mencari komoditas langka bernilai tinggi yang sulit ditemukan di wilayah lain.
Baca juga: Mega Proyek Rp26 Triliun Dimulai! Palembang New Port Siap Terhubung Tol Trans Sumatera
Zat tersebut adalah kapur barus atau kamper, dikenal sebagai kafur dalam tradisi Arab, yang memiliki nilai ekonomi sekaligus spiritual.
Dalam catatan sejarah, permintaan terhadap kafur sangat tinggi karena digunakan sebagai bahan wewangian, pengawet, hingga bagian dari ritual keagamaan.
Keberadaan komoditas ini bahkan disebut dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat Al-Insan ayat 5, yang menambah nilai simbolisnya di kalangan masyarakat Arab.
Sumatra pun berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di masa lalu, dengan pelabuhan-pelabuhan yang ramai disinggahi kapal asing.
Para pedagang rela menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan pasokan kafur berkualitas tinggi dari hutan-hutan tropis tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kekayaan alam Indonesia telah menarik perhatian dunia jauh sebelum era modern.
Hingga kini, jejak sejarah perdagangan kapur barus masih menjadi bukti kuat peran strategis Sumatra dalam jalur perdagangan global.
Editor : Redaksi
