Jalan Salib di Banyulegi: Saat Iman, Air Mata, dan Toleransi Menyatu di Satu Perjalanan

Jalan Salib di Banyulegi: Saat Iman, Air Mata, dan Toleransi Menyatu di Satu Perjalanan © mili.id

Langit masih teduh, namun suasana batin ratusan jemaat yang berkumpul di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan Pepantan Banyuleg justru dipenuhi kekhusyukan yang dalam, Jumat (03/04/2026).

Pagi itu, Jumat (3/4/2026), udara di Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, terasa berbeda.  Langit masih teduh, namun suasana batin ratusan jemaat yang berkumpul di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan Pepantan Banyuleg justru dipenuhi kekhusyukan yang dalam.

 

Baca juga: CKG Kota Mojokerto Capai 71,5 Persen, Pemkot Kejar Cakupan 100 Persen pada Oktober

Mereka tidak sekadar datang untuk beribadah, tetapi untuk berjalan bersama menyusuri jejak penderitaan yang diyakini sebagai wujud kasih paling agung.

 

Langkah demi langkah dimulai dari depan gereja. Perlahan, rombongan jemaat bergerak menyusuri jalan desa, menuju sebuah bukit di kawasan simpang tiga Banyulegi. Di sepanjang perjalanan itu, suasana hening kerap pecah oleh adegan teatrikal yang ditampilkan para pemuda gereja.

 

Sebuah drama kolosal hidup, yang menghadirkan kembali kisah Yesus Kristus saat memanggul salib menuju Bukit Golgota.


Bukan sekadar tontonan, setiap adegan terasa seperti denyut emosi yang nyata. Wajah-wajah jemaat tampak larut—ada yang menunduk, ada yang menitikkan air mata, seolah turut memikul beban yang sama. Jalan Salib pagi itu bukan hanya dilihat, tetapi dirasakan.

Baca juga: BPBD Mojokerto Mulai Distribusi Air Bersih ke Tiga Desa Terdampak Kemarau, Layani 2.776 KK


Pendeta GKJW Pepantan Banyulegi, Galih Fendi Christianto, menyebut momen ini sebagai langkah baru dalam menghidupkan makna ibadah. Untuk pertama kalinya, teatrikal Jalan Salib tidak hanya digelar di satu titik, melainkan berkeliling kampung, menyatu dengan ruang hidup masyarakat.


“Ini bukan sekadar pertunjukan. Kami ingin jemaat benar-benar menghayati makna pengorbanan itu, tidak hanya lewat kata, tetapi lewat pengalaman,” tuturnya.


Namun, ada hal lain yang membuat peristiwa ini terasa lebih hangat dari sekadar ritual keagamaan. Di balik prosesi sakral itu, terselip cerita tentang kebersamaan yang tumbuh di tengah perbedaan. Warga dari berbagai latar belakang agama ikut ambil bagian membantu persiapan, menjaga jalannya acara, hingga memastikan semuanya berjalan lancar.


Di Dawarblandong, toleransi tidak berhenti sebagai wacana. Ia hidup, bergerak, dan terasa nyata.

Baca juga: Warga Kunjorowesi Bertahan dengan Mandi Sekali Sehari, Air Bersih Diprioritaskan untuk Memasak


Usai perjalanan panjang dan perenungan mendalam, ibadah Jumat Agung ditutup dengan kebaktian yang penuh makna. Namun kebersamaan belum usai. Di sebuah ruang sederhana, jemaat dan warga lintas agama duduk bersama, menikmati hidangan dalam suasana ramah tamah.


Tawa kecil, obrolan ringan, dan kebersamaan itu menjadi penutup yang hangat—sebuah simbol bahwa di tengah perbedaan, selalu ada ruang untuk saling merangkul.


Di Desa Banyulegi pagi itu, Jalan Salib bukan hanya tentang perjalanan penderitaan. Ia juga menjadi jalan yang mempertemukan hati dalam iman, kemanusiaan, dan persaudaraan.

Editor : Redaksi



Berita Terkait