Sofanka Fotografer Radar Mojokerto Jawa Pos saat bersama pengunjung yang melihat karyanya, Selasa (31/03/2026).
Mili.id – Gedung Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang disulap menjadi ruang temu antara seni visual kontemporer dan kekayaan budaya. Pameran bertajuk “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” resmi dibuka dan menghadirkan kolaborasi dua fotografer dengan latar belakang berbeda, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya.
Pameran yang berlangsung hingga 2 April ini tidak hanya menyajikan karya fotografi dan lukisan, tetapi juga menghadirkan benda-benda arkeologi serta aksara Nusantara klasik yang jarang terekspos ke publik.
Baca juga: Ledakan Diduga Berasal dari LPG, Rumah di Mojoagung Jombang Terbakar, Satu Orang Terluka
Sofan Kurniawan, alumnus Fotografi ISI Yogyakarta yang kini aktif sebagai fotografer di Jawa Pos Radar Mojokerto, menampilkan karya bertajuk “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”. Melalui bidikannya, Sofanka mengangkat sosok travesti—laki-laki yang memerankan perempuan dalam kesenian Ludruk—sebagai simbol ekspresi sekaligus perlawanan sosial.
Karya tersebut juga merefleksikan perjalanan historis Ludruk yang sempat dibekukan pada masa Orde Baru karena dianggap kritis, sebelum akhirnya bangkit kembali dan tetap eksis sebagai hiburan rakyat, khususnya di wilayah pedesaan.
Di sisi lain, Luhur Wahyu Wijaya menghadirkan nuansa tradisi lewat tema “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama Dalam Tubuh Baru”. ASN di lingkungan Pemkab Jombang ini menyoroti bagaimana kesenian tradisional tetap bertahan dan beradaptasi di tengah perkembangan zaman.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri jejak masa lalu, mulai dari artefak arkeologi hingga keindahan aksara Nusantara yang sarat makna historis dan kultural.
“Pameran ini sekaligus menjadi literasi bagi kami, baik secara visual maupun tekstual. Banyak hal yang bisa dipelajari dan dikaji,” ujar Saskia, salah satu pengunjung.
Pameran ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat untuk menikmati dialektika seni modern dan tradisi dalam satu ruang. Selain itu, ajang ini juga membuka wawasan tentang pentingnya pelestarian cagar budaya lokal.
Bagi pecinta seni dan budaya, pameran ini sayang untuk dilewatkan sebelum resmi ditutup pada 2 April mendatang.
Editor : Redaksi
