Diskusi Film Horor menghadirkan sejumlah praktisi senior lintas generasi, di Jakarta, Sabtu(15/2/2026).
Mili.id – Menguatnya dominasi film horor Korea Selatan di pasar Indonesia menjadi alarm sekaligus refleksi bagi industri perfilman nasional. Fenomena tersebut dibedah dalam diskusi panel bertajuk “Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia” edisi ketiga yang menghadirkan sejumlah praktisi senior lintas generasi.
Forum yang dipandu moderator Irvan itu menghadirkan sutradara Toto Hoedi, produser Heart Pictures Herty Purba, serta Nanang Istiabudi. Mereka mengupas tuntas faktor-faktor yang membuat sinema horor Negeri Ginseng mampu menembus—bahkan menguasai—pasar penonton Indonesia.
Penonton Makin Kritis
Nanang Istiabudi, yang telah memproduksi film horor sejak era 1990-an, menilai perubahan paling signifikan justru datang dari sisi audiens. Menurutnya, literasi menonton masyarakat Indonesia meningkat pesat seiring kemudahan akses terhadap film global melalui berbagai platform digital.
“Penonton sekarang tidak hanya mencari adegan menyeramkan. Mereka menuntut kedalaman cerita, visual yang matang, dan produksi yang konsisten,” ujarnya dalam diskusi.
Film horor Korea dinilai mampu menjawab ekspektasi tersebut. Mulai dari pengembangan naskah, tata visual, hingga desain materi promosi seperti poster, seluruhnya digarap dengan standar profesional. Hasilnya, terbentuk persepsi kuat bahwa film tersebut memang “layak bayar”.
Mitos yang Mirip, Logika yang Berbeda
Secara kultural, Indonesia dan Korea Selatan memiliki kemiripan dalam tradisi supranatural—kisah arwah gentayangan hingga roh dengan urusan yang belum tuntas. Namun, pendekatan naratif keduanya berbeda secara mendasar.
Horor Korea cenderung menggabungkan unsur mistis dengan logika faktual. Konflik supranatural tetap hadir, tetapi konsekuensi fisik dan psikologis karakter ditangani secara realistis—termasuk adegan perawatan medis di rumah sakit. Pendekatan ini menciptakan rasa nyata di tengah dunia yang tak kasatmata.
Sebaliknya, horor Indonesia dinilai masih dominan mengandalkan penyelesaian konflik melalui jalur mistik murni. Perbedaan ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang menginginkan keseimbangan antara rasionalitas dan unsur gaib.
Ekosistem yang Solid
Produser Heart Pictures, Herty Purba, menyoroti kekuatan ekosistem industri Korea Selatan yang terbangun secara sistematis. Ia mengungkapkan pengalaman kolaborasi dengan lembaga Indonesia-Korea yang mempermudah kebutuhan produksi, termasuk akses lokasi syuting di ruang publik seperti kampus dan rumah sakit.
Dukungan pemerintah Korea terhadap industri kreatif dinilai masif dan terstruktur. Kondisi ini kontras dengan tantangan yang kerap dihadapi sineas Indonesia, mulai dari birokrasi perizinan yang panjang hingga biaya lokasi produksi yang tinggi.
Tantangan Internal Industri
Diskusi juga menyinggung persoalan internal perfilman nasional. Praktik produksi kilat dengan durasi syuting sekitar 10 hari demi efisiensi anggaran dinilai berdampak pada kualitas akhir film.
Para panelis mendorong sineas lokal memperkuat riset, khususnya dalam mengolah urban legend menjadi cerita yang lebih psikologis dan relevan dengan konteks kekinian. Adaptasi terhadap tren global seperti kehadiran monster atau zombie juga dianggap penting guna menghindari kejenuhan pada figur hantu tradisional.
Apresiasi FFHoror 2026
Sebagai penutup, diumumkan hasil penilaian Dewan Juri FFHoror periode 13 Januari–13 Februari 2026 yang diketuai Ncank Mail bersama Satria Sabil, Rio Apriciandhito, Nuty Larasaty, Dandung P. Hardoko, dan Dudy Novriansyah.
Daftar pemenang meliputi:
Film Terhoror: Setan Alas
Sutradara Terbaik: Yusron Fuady
Aktor Terbaik: Rangga Azof (Kafir Gerbang Sukma)
Aktris Terbaik: Putri Ayudia (Kafir Gerbang Sukma)
Tata Gambar (DOP): Nur Muhammad Taufiq dan Sjahfasyat Bianca untuk Dowa Ju Seyo (Tolong Saya)
Melalui refleksi ini, para sineas berharap industri film Indonesia dapat menyerap esensi profesionalisme Korea—terutama dalam penguatan cerita dan manajemen produksi—tanpa kehilangan identitas budaya lokal. Harapannya, horor nasional tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus kompetitif di pasar global.
Editor : Redaksi
