46 Konglomerat Antusias Borong “Patriot Bonds” untuk Proyek Energi Sampah

46 Konglomerat Antusias Borong “Patriot Bonds” untuk Proyek Energi Sampah © mili.id

Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir (Foto: ANTARA)

Jakarta,mili.id–Sebanyak 46 pengusaha papan atas Indonesia disebut siap menggelontorkan dana jumbo untuk membeli Patriot Bonds, instrumen obligasi terbaru yang diluncurkan Danantara Indonesia. Dana yang terkumpul dari obligasi ini akan dialokasikan untuk membiayai lebih dari 30 proyek konversi sampah menjadi energi listrik di berbagai daerah.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan pihaknya telah mendaftarkan Patriot Bonds ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 1 Oktober 2025. “Patriot Bonds disiapkan untuk membiayai proyek strategis, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi,” jelas Pandu, Kamis (2/10/2025).

Baca juga: Pembentukan DSI Dinilai Jadi Angin Segar Bursa Saham Indonesia

Meski baru tahap registrasi, kabar mengenai daftar 46 konglomerat yang sudah menyatakan minat membeli Patriot Bonds sempat beredar luas di media sosial. Nama-nama besar seperti Anthony Salim, Prajogo Pangestu, Sugianto Kusuma (Aguan), Franky Widjaja, Boy Thohir, Edwin Soeryadjaya, hingga Budi Hartono disebut siap merogoh kocek hingga Rp3 triliun per orang. Total komitmen dana mencapai Rp51,175 triliun, melewati target awal Rp50 triliun alias oversubscribed.

Yang menarik, imbal hasil Patriot Bonds hanya 2 persen, jauh di bawah Surat Utang Negara (SUN) yang masih menawarkan di atas 6 persen. Kondisi ini membuat publik bertanya-tanya: mengapa para taipan rela berinvestasi di instrumen dengan cuan sekecil itu?

Baca juga: Pemerintah Tata Ulang 180 BUMN, Ada yang Merger hingga Dibubarkan

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut Patriot Bonds tak hanya soal investasi finansial, melainkan juga strategi politik. “Patriot Bonds itu lebih mirip asuransi politik. Dengan ikut berpartisipasi, para konglomerat berharap bisnisnya tidak diganggu pemerintah. Konsesi tambang, minyak, hingga sawit bisa menjadi bagian dari kesepakatan tak tertulis,” tegas Bhima.

Namun, pihak Danantara membantah klaim tersebut. MD Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, menegaskan informasi mengenai daftar 46 konglomerat itu bukan pengumuman resmi. “Patriot Bonds dipersiapkan melalui skema private placement, bukan ditawarkan ke publik. Prinsipnya sukarela dan bertujuan untuk kontribusi pembangunan lintas generasi,” ujar Al-Arief.

Baca juga: Pemerintah Tegaskan Komitmen Tata Kelola BUMN Lewat Evaluasi Komprehensif

Apakah benar Patriot Bonds akan menjadi instrumen pembangunan berkelanjutan, atau justru jalan bagi para pengusaha besar untuk mencari “perlindungan politik”? Publik kini menunggu bagaimana OJK dan Danantara merampungkan proses finalisasi penerbitan obligasi yang sedang ramai jadi sorotan ini.

Editor : Muhammad



Berita Terkait