Sedekah Bumi Dukuh Karangan Surabaya sukses besar diramaikan oleh Cak Kartolo, Ning Tini, cak Jadi Galajabo, Ning Dewi dan juga Ludruk Citra Baru
Surabaya, mili.id-Sedekah Bumi Dukuh Karangan sukses besar—lebih rapi daripada sidang DPR yang sering molor quorum. Cak Kartolo, Ning Tini, cak Jadi Galajabo, Ning Dewi dan juga Ludruk Citra Baru berhasil membuat rakyat lupa sejenak harga beras, Lupa akan huru Hara Politik, Tapi di tengah gegap gempita itu, Kusnan, sang ketua panitia, masih saja merasa kecewa karena Walikota tidak Hadir.
Ketika ditanya kawan wartawan, apakah Walikota akan hadir dalam gelaran Budaya ini, Cak Kusnan Menjawab lirih. " Saya kurang tahu, surat sudah saya sampaikan Satu bulan kemarin, saya sudah kontak Aspri, namun tidak ada tembusan hingga jam sekian, warga sini berharap beliau Hadir, saya merasakan kekecewaan di mata Warga ", ucap Kusnan, minggu(21/9/2025).
Baca juga: Wabup Bojonegoro Hadiri Sedekah Bumi Panen Raya di Desa Kesongo
Acara Tahunan yang di laksanakan ini sebagai rasa Syukur Kepada Tuhan atas Limpahan Dan Berkahnya. Acara Hampir satu Minggu diawali tgl 14 September 2025 dengan Karnaval Budaya. Dilanjut tgl 18 di buka Pengajian Umum, dilanjut Hari Jumat tgl 19 September 2025 dengan Pagelaran Wayang Kulit, dan di tutup pada tanggal 20 September 2025 dengan pementasan Ludruk, dan lawak Cak Kartolo Cs dan Cak Jadi Galjapo.
"Kemarin, hari Jumat, acara wayang dihadiri pak Camat Wiyung, sekarang beliau izin tidak bisa hadir, dan diwakili sekcam. Saat ini Bu Lurah Babatan Yang hadir namun tidak bisa lama2 sbb masih dalam Berkabung"ujar Kusnan.
Sekitar pukul 22.30 wib Kepala dinas Disporapar datang, BP Hidayat Syah setelah menghadiri acara resepsi salah satu pejabat Pemkot. Namun beliau juga tidak lama, sebab besok pagi harus menghadiri acara di jl. Tunjungan .
Acara penutupan sedekah bumi, dg pementasan Ludruk, yg diawali dg bunyi petasan menggelar, Jam menunjukan sudah Tenga malam, namun masyarakat kian malam kian bertambah, tak ada sela kosong, berhimpit memadati sekitar panggung Kampung Dukuh Karangan .
Baca juga: Guyub dan Syukur di Tanah Gresik: Cerita dari Sedekah Bumi Dusun Banyu Urip
Salah seorang Tokoh Masyarakat, yang hadir di acara itu, di mintai tanggapan oleh wartawan tentang ketidak hadiran Walikota di acara Kebudayaan ini mengatakan," Ini bukan soal sibuk atau tidak sibuk, kalau memang sibuk, pasti ada perwakilan, Padahal, kalau dipikir, hampir semua pejabat itu sibuk.
Ada yang sibuk memikirkan proyek trotoar, ada yang sibuk selfie di luar negeri, dan ada juga yang sibuk memastikan sudah Viral kah kegiatan dia di Medsos, Wajar saja, waktu untuk rakyat yang tengah Mempertahankan Budaya Adi Luhung, sering terselip di sela-sela agenda pencitraan"ucapnya
Namun justru di sinilah letak paradoks politik Surabaya. Rakyat tiap tahun setia menggelar sedekah bumi tanpa dana hibah, bahkan tanpa amplop seremonial. Inisiatif lahir dari rakyat, berlangsung di tengah rakyat, dan untuk rakyat. Sementara para pejabat sering kali hanya hadir kalau ada panggung dan mic, supaya bisa bilang: “Saya mendukung budaya lokal.”
Baca juga: Sedekah Bumi Karangan Surabaya, Merawat Tradisi di Tengah Gempuran Modernisasi
Tapi mari kita jujur—apa arti “hadir” bila hanya untuk basa-basi? Budaya bukan daftar hadir, tapi kesadaran kolektif. Jadi jangan salah kaprah: rakyat bersedekah untuk bumi, bukan untuk pejabat. Kalau pun ada yang sedekah kursi, ya itu adanya di gedung dewan, bukan di Dukuh Karangan.
Dengan demikian, kekecewaan Kusnan dan Warga Dukuh Karangan sebenarnya tidak perlu. Justru absennya pejabat membuktikan satu hal: bahwa sedekah bumi lebih murni tanpa protokoler, tanpa sambutan panjang, tanpa pemotongan pita. Rakyat tertawa menonton ludruk, bumi tersenyum menerima syukur dari Rakyat, sementara pejabat entah sibuk di mana. Itulah laboratorium kebudayaan—tempat rakyat belajar bahwa politik bisa absen, tapi budaya selalu hadir.
Editor : Muhammad
