Pertandingan Dewa United vs Persija Jakarta di pekan ke-4 BRI Super League 2025/2026
Banten, mili.id - Jumat malam (29/8/2025), suasana di Banten International Stadium (BIS), Serang, seolah tak hanya dipenuhi sorak-sorai penonton yang menyaksikan Persija Jakarta melawan Dewa United. Ada satu detail kecil yang menyita perhatian: pita hitam di lengan kiri kapten Persija, Rizky Ridho.
Sekilas, pita hitam hanyalah sehelai kain sederhana. Namun di balik itu, ia menyimpan makna mendalam. Pita itu adalah simbol duka, bukan semata karena kehilangan seseorang, melainkan rasa kehilangan akan sesuatu yang lebih besar: demokrasi.
Baca juga: Persija vs Persib Tayang Live Indosiar, GBLA Gelar Nobar Akbar untuk Bobotoh
Sebelum pertandingan, Ridho sempat mengunggah pesan di akun Instagram pribadinya. Ia menuliskan kampanye singkat: “RIP Indonesia’s Democracy.” Kalimat yang padat, tapi jelas mengandung kegelisahan.
Pesan itu tidak berdiri sendiri. Sejumlah rekan setimnya – Hansamu Yama, Andritany Ardhiyasa, Rio Fahmi, hingga Arlyansyah Abdulmanan – ikut menyuarakan hal serupa. Dari lapangan hijau, suara protes itu bergema senyap, namun kuat.
Kemenangan dengan Luka di Hati
Persija akhirnya menang 3-1 atas Dewa United. Ridho tampil solid sebagai palang pintu sekaligus pemimpin di lapangan. Namun, kemenangan itu tak sepenuhnya menghadirkan senyum lega.
Baca juga: The Jakmania Kepung Latihan Persija, Tuntut Macan Kemayoran Tumbangkan Persib di Samarinda
Pelatih Persija, Mauricio Souza, membuka sedikit tabir mengapa anak asuhnya memilih mengenakan pita hitam.
“Dia sangat sedih dengan apa yang terjadi di Indonesia. Itu caranya menunjukkan empati,” kata Souza usai laga.
Saat Bola dan Realita Bertemu
Di luar stadion, suasana Indonesia tengah berkecamuk. Demonstrasi besar-besaran meletup di berbagai daerah, terutama Jakarta. Gelombang protes muncul setelah DPR menaikkan tunjangan, sebuah keputusan yang dinilai publik tidak sebanding dengan kinerjanya.
Kemarahan massa semakin membara usai peristiwa tragis: seorang driver ojek online meninggal dunia terlindas kendaraan taktis Brimob. Tragedi itu menjadi luka kolektif, meninggalkan duka mendalam, sekaligus amarah yang belum reda.
Baca juga: Persib Bungkam Semen Padang, Kokoh di Puncak Klasemen
Apa yang dilakukan Ridho mengingatkan kita bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah cermin dari denyut sosial, tempat para pemain juga menjadi bagian dari masyarakat yang merasakan duka, kemarahan, dan ketidakadilan.
Malam itu, di tengah sorak penonton dan gemerlap lampu stadion, pita hitam di lengan kapten Persija menjadi pengingat: kemenangan di lapangan tidak bisa memadamkan kesedihan di luar sana. Sepak bola, dalam sunyi, ikut berbicara untuk rakyatnya.
Editor : Muhammad
