100 Hari Pemerintahan Warsubi dan Asa Jombang Menuju Sejahtera

100 Hari Pemerintahan Warsubi dan Asa Jombang Menuju Sejahtera © mili.id

Bupati Jombang, Warsubi (Foto: Istimewa)

Jombang, mili.id - Asa Jombang menuju sejahtera terukir jelas dalam 100 hari pemerintahan Bupati Warsubi dan wakilnya, Salmanudin Yazid.

Langit cerah di atas Taman Kebon Ratu Keplaksari, alunan gamelan, menyambut langkah kecil para siswa RA dan SD ketika masuk Pendopo Kabupaten Jombang.

Baca juga: Ledakan Diduga Berasal dari LPG, Rumah di Mojoagung Jombang Terbakar, Satu Orang Terluka

Bukan sekadar seremoni. Hari itu menjadi saksi lahirnya mimpi besar, Jombang yang maju dan sejahtera untuk semua.

Ya, pasangan Bupati H Warsubi dan Wakil Bupati Salmanudin Yazid memang menjadi semangat baru bagi Jombang.

Dalam 100 hari pertama pemerintahannya, mereka tidak sekadar menjanjikan perubahan, tetapi membuktikannya melalui 8 program prioritas bertajuk Asta Cita Warsa.

Sebuah paket kerja nyata yang lahir dari kebutuhan masyarakat dan menyasar hingga akar rumput.

Salah satu program yang paling menyentuh publik adalah Gerakan Satu Pernikahan Satu Pohon.

Di tengah semarak pesta pernikahan, setiap pasangan pengantin kini diajak untuk menanam pohon sebagai simbol harapan.

"Ini bukan hanya program seremonial, ini perwujudan cinta terhadap bumi dan harapan bagi keluarga baru," kata Abah Warsubi-sapaan bupati Jombang itu, Senin (9/6/2025).

Ia menjelaskan bahwa hal itu menjadi sebuah langkah kecil dengan dampak ekologis yang besar.

Tidak semua perubahan harus monumental. Di Dusun Kedungdendeng, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, daerah yang selama ini tertinggal dalam hal konektivitas digital, tiba-tiba saja warganya bisa menikmati akses internet gratis.

"Seorang siswa SMP bernama Nisa tersenyum lebar saat bisa belajar daring tanpa harus naik ke atas pohon untuk sinyal. Sekarang belajar daring jadi mudah. Saya nggak perlu lagi nebeng WiFi tetangga," tutur dia.

Abah Warsubi menyebut layanan internet ini tersedia di 366 titik dan digagas sebagai jembatan keadilan digital bagi seluruh rakyat Jombang.

"Sebuah langkah nyata menuju literasi digital dan pemerataan informasi," tambahnya.

Abah Warsubi mengatakan, infrastruktur juga jadi fokus utama. Melalui pembentukan Tim Mandor Jalan, perbaikan 124 ruas jalan sepanjang hampir 39 kilometer kini bukan lagi wacana.

Baca juga: Puluhan Wartawan Ikuti OKK PWI Jombang, Perkuat Kompetensi dan Etika Jurnalistik di Tengah Perkembangan AI

"Jalan Blimbing-Gudo dan Mojoagung-Mojoduwur bahkan mengalami peningkatan signifikan," ujarnya.

Sementara Tim Normalisasi Saluran menyisir 13 titik saluran dan sungai sepanjang 26 kilometer.

"Kami ingin Jombang tidak lagi banjir saat musim hujan," ujar Abah Warsubi.

Itu menjadi sebuah jawaban untuk kekhawatiran petani dan warga di dataran rendah.

Dalam program 100 hari kerja, Abah Warsubi tahu betul, kekuatan ekonomi Jombang banyak ditopang sektor desa.

Maka, program Peternakan Rakyat diluncurkan. 64 kelompok ternak di 55 desa kini mendapat pendampingan dan dana usaha.

"Tujuannya bukan hanya untuk swasembada, tapi menjadikan ternak sebagai sumber kesejahteraan keluarga," tambah dia.

Abah Warsubi menegaskan, pada era pemerintahan kali ini ada nuansa lain yang berbeda dari masa lalu. Pendopo Kabupaten Jombang kini terbuka untuk umum.

Baca juga: Sengketa Kredit Berakhir Damai, Nenek Ngatini Sepakati Pelunasan Utang Rp70 Juta Secara Bertahap

"Program, Pendopo Milik Rakyat, Abah untuk Semua, menjadi simbol keterbukaan pemerintah terhadap rakyatnya," katanya.

Ia mengaku ruang-ruang yang dulu tertutup kini bisa dijelajahi anak-anak, pelajar, bahkan masyarakat biasa yang ingin tahu cara kerja birokrasi.

"Kami ingin generasi muda merasa memiliki pemerintahannya, mengenal budayanya, dan mencintai tanah kelahirannya," ujar Abah Warsubi didampingi istrinya, Yuliati Nugrahani Warsubi.

Dia menyebut, 8 program itu terangkum dalam satu narasi besar, Asta Cita Warsa. Sebuah cetak biru pembangunan yang meliputi beberapa hal.

"Salah satunya, pembangunan desa dan kota untuk semua. Penguatan SDM unggul dan berdaya saing. Pengentasan pengangguran. Penguatan infrastruktur dan ekonomi," ulas Abah Warsubi.

Dia mengaku ada juga program pengurangan kemiskinan ekstrem. Program ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

"Dan ada pula program penguatan harmoni sosial, serta program tata kelola pemerintahan yang bersih, dari KKN," kata Abah Warsubi.

Ia menegaskan bahwa hal ini bukan tugas mudah. Tapi langkah pertama telah diayunkan. Dan seperti kata pepatah Jawa, "Sapa nandur bakal ngunduh." Siapa yang menanam, kelak akan menuai. Abah Warsubi telah menanam, kini Jombang menanti panennya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait