Mengenal Makna dan Tradisi Makan Ikan Dingkis saat Perayaan Imlek

Mengenal Makna dan Tradisi Makan Ikan Dingkis saat Perayaan Imlek © mili.id

Olahan ikan dingkis. (Dok. YouTube @intiyahchannel).

mili.id - Tradisi makan ikan dingkis saat perayaan Imlek, mungkin tak banyak orang yang tahu. Begitupun juga maknanya.

Tradisi etnis Tionghoa ini ternyata hanya dapat ditemukan di Kepulauan Riau (Kepri). Ikan dingkis dipercaya akan membawa hoki dan keberkahan.

Lalu, bagaimana makna sebenarnya?

"Dalam budaya Tionghoa, ada istilah 13 bulan seperti tahun kabisat. Ada kalanya satu tahun terdiri dari 12 bulan, namun kadang juga 13 bulan. Anehnya, pada tahun-tahun tersebut, ikan dingkis memasuki masa suburnya tepat pada saat Imlek," terang Ketua Ikatan Tionghoa Muda (ITM) Kepri, Ediyanto, Rabu (29/1/2025).

Menurut Ediyanto, keyakinan masyarakat Tionghoa di Tanjungpinang, ikan dingkis dianggap sebagai ikan hoki yang membawa berkah. 

Ikan ini datang dari perairan jauh membawa telur ke perairan Kepri, sehingga mengonsumsinya dipercaya dapat membawa keberuntungan dalam kehidupan.

"Dalam bahasa Mandarin terdapat istilah nien nien you yui, yang artinya setiap tahun ada sisa duit. Di mana kata yui juga berarti ikan. Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia mewajibkan makan ikan saat merayakan Imlek, baik itu ikan kerapu, ikan kakap, maupun ikan lainnya," jelasnya.

Ediyanto menyebut banyak rekannya yang berada di luar Kepri meminta kiriman ikan dingkis menjelang Imlek, karena ikan ini hanya tersedia di perairan Kepri.

Kenaikan harga ikan dingkis pada Imlek pun diakuinya, disebabkan tingginya permintaan.

"Setiap tahun pada Imlek, harga ikan dingkis bisa mencapai Rp400.000 hingga Rp500.000 per kilogram. Bahkan, pernah mencapai harga jutaan jika stok terbatas," sebutnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun makan ikan dingkis bukan kewajiban, namun ikan ini tetap dianggap memiliki nilai berkah yang disayangkan jika dilewatkan. 

Mengkonsumsi ikan dingkis biasanya dilakukan mulai dari hari Imlek hingga Cap Go Meh, yang merupakan perayaan pada malam ke-15 setelah Imlek.

"Cap Go Meh kami sambut sebagai hari purnama pertama setelah Imlek. Jadi kami merayakannya dengan berkumpul bersama keluarga," katanya.

Ediyanto menegasakan bahwa tidak ada pantangan dalam mengolah ikan dingkis sebelum dikonsumsi. Menurutnya, telah terjadi akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu, karena ikan dingkis bisa diolah dengan bumbu asam pedas khas Melayu dan disajikan sebagai menu utama untuk keluarga maupun tamu yang datang berkunjung.

"Ikan dingkis adalah ikan khas, seperti gonggong, yang hanya bisa ditemukan di Tanjungpinang. Ikan dingkis masih dapat dijumpai di perairan Kepri setelah Imlek, tetapi dalam kondisi yang tidak subur dan jumlahnya terbatas. Jika tidak dalam masa subur, daging ikan dingkis akan terasa lebih alot," tandasnya.

Baca juga: Icha Yang Ajak Warga Jakarta Bernyanyi Bersama di Harmoni Imlek Nusantara

Editor : Achmad S



Berita Terkait