Lies dan produknya. (Nana/mili.id)
Mojokerto, mili.id - Panas dan sangat sederhana, begitu kira-kira gambaran ruang tempat produksi stik kelor, stik bawang dan aneka keripik asal Kota Mojokerto ini.
Ruangan berukuran 10 meter x 2,25 meter itu digunakan Sulistyawati sebagai tempat produksi snack rumahannya, sekaligus ruangan dapur keluarga di Kecamatan Magersari.
"Maaf agak panas ya mba di sini," ucap Lies sapaan akrabnya sembari menggoreng opak singkong pesanan salah satu pusat oleh-oleh ketika mili.id ke rumahnya.
Kondisi ruangan yang sempit dan terasa pengap, kata perempuan berumur 49 tahun itu, bukan jadi penghalang untuk terus melanjutkan usaha yang dirintisnya bersama suami sejak 2018 silam.
Lies yang berstatus ibu rumah tangga (IRT) itu mengakui, ruangan yang ditempatinya saat ini sudah digunakan sejak awal merintis usaha stik kelor dan stik bawang dan berlanjut di 2019 mengolah aneka kripik.
Meski begitu, ia dan sang suami Purwanto (59) tetap bersemangat untuk mengolah stik kelor, stik bawang dan aneka keripik. Mulai dari pisang, sukun, talas, singkong, opak singkong, opak gadung.
Sesekali pria paruhbaya itu terlihat mengupas bahan baku keripik dan mengirisnya menggunakan cetakan tradisional berbahan kayu di bale-bale di samping rumahnya.
"Kalau bapak bagian membersihkan bahan baku mulai dari singkong, pisang, talas. Dikupas, dicuci bersih, terus di iris sesuai ukuran. Baru dicuci lagi sampai bersih, dan di jemur, saya yang bagian bumbuin, goreng, sama packing," imbuh ibu dua anak ini semringah.
Lies mengatakan, sang suami yang memilih resign dari pekerjaan sebelumnya dan merintis usaha dengan nama Lies Snack 6 tahun silam. Kala itu, hanya ada modal Rp 1,5 juta.
Selain itu, ia termotivasi untuk membuat snack yang sehat untuk anak-anak dari bahan daun kelor. Kala itu ada perlombaan inovasi kudapan dari daun kelor dan tercetuslah ide stik kelor.
“Pertama itu stik kelor. Masih saya ingat sekali waktu itu, ada lomba kudapan kelor. Jadi saya buatlah stik kelor, supaya anak-anak mau. Kalau sayur gitu kan gak mau, jadi saya bikin cemilannya," imbuh Lies.
Inovasi olahan snack keluarga ini pun semakin bertambah, setelah Lies mendapatkan dukungan penuh dari suami. Mulai dari pembuatan alat-alat produksi seperti pengiris yang dibuat sendiri.
"Terus suami resign, dan punya ide kenapa gak nambah bikin keripik-keripik. Akhirnya suami buatkan alat, pasrah, nyoba-nyoba, dan saya kembangkan," beber kader PKK di Kota Onde-onde ini.
Produksi kemasan Rp10.000 hingga Rp15.000 itu katanya, ternyata sangat laris. Pihak tempat penitipan jualan produksinya kembali meminta untuk dibawakan lagi. Hal ini membuatnya lebih terpacu lagi untuk melanjutkan usaha Lies Snack.
“Awalnya, hanya karena untuk biaya hidup, bantu suami, lalu untuk pendidikan anak-anak. Dan akhirnya memberanikan diri usaha mandiri bersama," ujarnya.
Menurut Lies, ia tak hanya menjual kemasan besar yang didistribusikan reseller maupun dititip ke pusat oleh-oleh di Kota maupun Kabupaten Mojokerto. Tapi produk aneka kripik olahan bersama Purwanto juga dititipkan ke sejumlah warung kopi.
"Selain pusat oleh-oleh dan reseller, saya tetap menaruh di warkop, toko-toko kecil gitu, tapi kemasan yang plastik kecil Rp 2.000 an," ujarnya.
Ia pun saat ini mulai merambah media sosial untuk mempromosikan produk UMKM olahannya bersama sang suami. Meski ada keraguan jika nantinya pasutri ini kewalahan dalam menghadapi pesanan kustomer online.
"Sekarang coba masang-masang gambar produk di Instagram, walau takut juga banyak pesanan. Karena produksi saya hanya berdua dengan bapak nya, ada bantu paling di packing saja, itu kalau pesanan terlalu banyak," bebernya.
Meski begitu, Lies dan Purwanto tetap optimis di usia tuanya untuk tetap produktif dan berpenghasilan secara mandiri. Keduanya tebilang sukses karena mampu menghantarkan dua buah hatinya hingga mengenyam bangku pendidikan.
Baca juga: BPBD Mojokerto Mulai Distribusi Air Bersih ke Tiga Desa Terdampak Kemarau, Layani 2.776 KK
Editor : Achmad S
