Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro. (Istimewa)
Surabaya, mili.id - Tepat pada 8 Januari 1855 atau 170 tahun yang lalu, Pangeran Diponegoro wafat. Pahlawan nasional yang lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 ini meninggal di usia 69 tahun.
Anak dari pasangan bernama R.A. Mangkarawati ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja ini sewaktu dilahirkan bernama Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian setelah dewasa menjadi Bendara Raden Mas Antawirya.
Menjelang Akhir Hayat Pangeran Diponegoro
Sebelum wafat, Pangeran Diponegoro ditangkap pasukan penjajah Belanda yang dipimpin Jenderal De Kock di Magelang, Jawa Tengah. Ia kemudian ditempatkan di Gedung Karesidenan Semarang, di Ungaran, lalu dibawa ke Batavia pada 5 April 1830 menggunakan kapal Pollux.
Pangeran Diponegoro tiba di Batavia pada 11 April 1830 dan ditahan di Stadhuis (Gedung Museum Fatahillah). Selanjutnya pada 30 April 1830, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado bersama istri keenamnya.
Mereka tiba di Manado pada 3 Mei 1830 dan ditawan di Benteng Nieuw Amsterdam. Tahun 1834, Diponegoro dipindahkan ke Makassar. Dalam pengasingannya, ia sempat mengkritik cara pihak Belanda, khususnya Jenderal De Kock atas perlakuan terhadap dirinya.
Akhir Hayat Pangeran Diponegoro
Dalam pengasingannya, kondisi Pangeran Diponegoro sudah dalam keadaan lemah, muntah-muntah akibat mabuk laut, dan terkena malaria, diatas kapal, Letnan Knooerle, yang merupakan ajudan dari Gubernur Jenderal Van Den Bosch yang mengawal pengasingan Diponegoro.
Pangeran Diponegoro dan rombongannya, yakni istri, dua anaknya, dan 23 pengikutnya tiba di Manado pada 12 Juni 1830. Awalnya, Diponegoro akan ditempatkan di Tondano, tetapi Knoorle diberitahu oleh Pietermaat, seorang residen setempat bahwa Kiai Madja beserta 62 pengikutnya baru saja tiba di Tondano dari Ambon.
Sehingga akhirnya Knoorle memutuskan Diponegoro ditahan di Benteng Manado untuk sementara waktu agar tidak ketemu dengan Kiai Madja. Diponegoro berada di Benteng Manado atau Fort Nieuw Amsterdam sejak Juni 1830 hingga Juni 1833.
Setelah beberapa tahun di Manado , ia dipindahkan ke Makassar pada Juli 1833 di mana ia ditahan di dalam Fort Rotterdam karena Belanda percaya bahwa penjara tidak cukup kuat untuk menampungnya.
Terlepas dari status tahanannya, istrinya Ratnaningsih dan beberapa pengikutnya menemaninya ke pengasingan dan dia menerima pengunjung terkenal termasuk Pangeran Henry Belanda yang berusia 16 tahun pada tahun 1837.
Diponegoro juga menyusun manuskrip tentang sejarah Jawa dan menulis otobiografinya, Babad Dipanegara, selama pengasingannya. Kesehatannya menurun karena usia tua, Diponegoro kemudian meninggal pada 8 Januari 1855, pukul 06.30 pagi. Tujuh hari kemudian, anak dan istrinya memutuskan untuk tetap tinggal di Makassar.
Editor : Achmad S
