Mitos Pengrajin Kendang di Mojokerto, Tak Boleh Menabuh Jika Ingin Berkarya

Mitos Pengrajin Kendang di Mojokerto, Tak Boleh Menabuh Jika Ingin Berkarya © mili.id

Pardan saat membuat gendang. (nana/mili.id)

Mojokerto - Kendang atau gendang adalah alat musik yang termasuk dalam satu bagian dari gamelan dan karawitan Jawa. Tak sekedar kesenian, alat bunyi-bunyian berupa kayu bulat panjang ini juga dipercaya memiliki sisi mistis.

Seperti yang diungkapkan Pardan salah satu pengrajin kendang di Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pria berusia 61 tahun ini mengaku, jika ingin menjadi seorang pengrajin kendang haruslah mematuhi pantangan. Salah satunya ialah, tak boleh menjadi seorang penabuh kendang dalam acara pagelaran kesenian dan budaya.

Konon dipercaya, jika pantangan menabuh tersebut dilanggar dengan sengaja atau tidak, pengrajin akan beresiko mengalami kematian mendadak.

Pardan meyakini, pantangan ini bukan sekedar mitos belaka. Kejadian nahas, pernah dialami oleh teman karibnya yang juga seorang pengrajin kendang.

"Pantangan ini nyata, teman saya dulu meninggal dunia karena melanggar," beber Pardan.

Peristiwa tersebut, pengakuan Pardan, terjadi sekitar tahun 1998 silam. Saat itu temannya, turut andil dalam pagelaran wayang kulit sebagai penabuh kendang.

Padahal, temannya ini telah menjadi seorang pengrajin kendang sama seperti dirinya.

"Sepulang dari acara wayang itu, teman saya mengalami muntah darah yang cukup parah dan langsung meninggal," imbuhnya.

Namun, ia tak bisa membeberkan siapa yang membuat dan sejak kapan pantangan ini berlaku. Selain itu, cerita kematian lainnya datang dari pengisian khodam untuk pengasihan dan penglarisan. Ia menyebutnya dengan kata, sentrenan.

Sentrenan ini, lanjut Pardan, bisa dilakukan di semua tempat yang disakralkan. Pelaku dapat melakukan ritual dan mengikat perjanjian dengan khodam yang akan menjadi pendamping sekaligus mewujudkan keinginannya.

Selama menjadi pengrajin kendang, ia sering dimintai pelanggan untuk memasang sebuah peniti emas yang dibungkus kain putih.

Kemudian, benda yang dibentuk menyerupai pocong ini dipasang ke dalam lubang kendang yang diyakini sebagai tempat tinggal khodam.

"Kendang ini ada banyak yang sentrenan, buat penglarisan supaya laris, banyak yang ngundang dan sering pentas," terangnya

Hanya saja, di balik kata laris dan terkenal ini ternyata ada resiko menyeramkan yang akan dialami oleh pelaku. Bahkan, pelaku dapat mengalami kematian yang janggal.

Seperti sentrenan atau pengisian khodam terhadap sinden atau penyanyi. "Kalau sinden atau penyanyi itu biasanya biar cepat kondang (terkenal) dan berkharismatik," katanya

"Tapi kalau untuk sentrenan supaya terkenal itu perjanjiannya jatah usia. Misalnya 5 tahun, orang itu akan meninggal sesuai waktu yang ditentukan," sambungnya

Atas fenomena tersebut, Pardan mengaku prihatin dengan pelaku yang ingin meraih popularitas dan kekayaan dengan menggunakan cara instan. Selain berimbas ke diri sendiri, sentrenan juga terbilang merepotkan.

"Misalnya sentrenan kendang itu setiap malam Jumat legi harus disuguh (memberi makanan) biasanya dupa sama menyan. Sama seperti pusaka, harus merawat," pungkasnya.

Baca juga: Razia Gabungan di Lapas Mojokerto, Tak Ditemukan Narkoba dan Ponsel di Kamar Hunian

Editor : Achmad S



Berita Terkait