Dyah Katarina, Terima Aduan Kader Kesehatan Belum Terima Insentif

Dyah Katarina, Terima Aduan Kader Kesehatan Belum Terima Insentif © mili.id

Dyah Katarina saat reses di Putat Gede

Mili.id - Saat serap aspirasi masyarakat atau Reses di Putat Gede RT III RW II, Dyah Katarina mendapatkan kelurahan kader kesehatan terkait tugas-tugasnya.

"(Jadi) kesulitan kader melakukan tugasnya (yang) berat, banyaknya tugas sehingga jadi susah," kata Polisi PDIP tersebut, Rabu (16/2) malam.

Baca juga: Warga Bendul Merisi Wadul Anggota DPRD Ingin Punya RT Sendiri

Di samping itu, papar Anggota Komisi D itu, kader harus juga menggunakan IT dengan alat bantu yang tidak murah, yakni memakai perangkat Android.

"Sehingga tergantung pada internet, kuota paketan, dan sebagainya." paparnya.

Dyah juga menyayangkan telatnya insentif sejak Januari sampai pertengahan Februari belum dibayarkan kepada mereka. 

"Harusnya Pemkot lebih peka, sudah dibantu warga untuk mendata atau menyisir, survey kondisi warganya, pemberian apresiasi jangan sampai telat." seru dia.

Dyah menuturkan, dia juga dapat aduan masyarakat, dimana saat warga sudah bantu puskemas, dan pihak puskesmas turun mereka ramah sekali. Kendati begitu, warga ketika sakit ketemu orang puskesmas belum tentu disapa.

Baca juga: Dewan Kota Surabaya Tekankan Pelayanan Pemerintah Harus Lebih Baik

Atas kejadian tersebut, Dyah mendorong Dinkes memberikan bekal, briefing kepada puskesmas, hal sekecil apapun yang berkaitan dengan kader betul-betul diperhatikan.

"Karena tanpa kader (kesehatan) Surabaya tidak akan bisa akan menangani masalah kesehatan di Surabaya." Bebernya

"Saya yakin itu!" tegas dia.

Baca juga: Yona Disambati Warga Surabaya Barat Soal Dukungan Permodalan Bagi UMKM

Lantas ia menyontohkan, apabila kader kesehatan mogok, maka ia menyebutkan 'buyar Surabaya', 

"Dengan melihat seperti ini betapa pentingnya kader, harus nya perhatian lebih banyak lagi, kemudian pendampingan puskesmas ke posyandu juga digiatkan lagi seperti dulu karena yang namanya kader ini ilmunya perlu di upgrade." Urai Dyah

Sebab bila tidak tidak di upgrade, tidak didampingi (ilmunya tidak berkembang). "Kayak itu itu aja, padahal seperti timbangan harus di tera bagaimana mengukur yang benar. Ini kalau sekali salah, itu data akan salah seterusnya bagi anak yang diukur."ketus dia.

Editor : Redaksi



Berita Terkait