Kisah Eka Wahyuningsih, Mantan Pegawai Bank yang Sukses Berbisnis Katering Proyek

Kisah Eka Wahyuningsih, Mantan Pegawai Bank yang Sukses Berbisnis Katering Proyek © mili.id

Karyawan Eka Wahyuningsih saat menyiapkan makanan untuk pekerja proyek di Makassar (ist)

mili.id - Mantan pegawai bank swasta di Surabaya, Eka Wahyuningsih kini mendulang sukses setelah membuka usaha warung katering proyek.

Wanita 33 tahun asal Sidoarjo ini mengawali karirnya di sebuah bank swasta pada 2013. 10 tahun berkarir di sana, lulusan S1 akutansi Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya ini pernah menduduki posisi marketing hingga manajer.

Baca juga: Kisah Inspiratif Harjo Seputro, Anak Bakul Ikan Asin Jadi Warek I Untag Surabaya

Dan single parents ini mulai membuka usaha katering pada Mei 2023, setelah resign dari pekerjaan yang diidam-idamkan banyak orang tersebut.

Alasannya, ia kelimpungan tak bisa membagi waktu antara pekerjaan utama dan sampingan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengorbankan jabatannya, memulai wirausaha.

"Saya resign kerja sebagai manajer sebuah bank pada Mei 2023. Itu langsung bikin warung katering di proyek," ungkap Eka kepada mili.id, Selasa (27/2/2024).

Awalnya, ide usaha itu sebenarnya karena iseng semata. Dia bersama kakaknya mencoba peruntungan baru dengan mengikuti sebuah tender saat ada proyek pembangunan di Makassar.

Usai mendapat minat dari proyek manager dan memenangkan tender di sana, mereka langsung menyewa lahan untuk dijadikan tempat makan prasmanan para pekerja proyek.

"Untuk buka warung katering di sebuah proyek itu kita tender dulu. Kemarin buka warung di Makassar, ada proyek bikin sekolah. Jadi warung itu buka kalau ada proyek saja. Untuk lahannya aku sewa," tambahnya.

Eka WahyuningsihEka Wahyuningsih

Tak main-main, makanan lauk ayam, ikan dan telur yang dibanderol mulai Rp15-20 ribu ini banyak diminati pekerja di sana hampir satu tahun lamanya. Sedikitnya ada 80 pekerja dari tiap mandor menyantap hidangan yang disajikan Eka.

Baca juga: Kisah Inspirasi Geral, Anak Muda Mojokerto yang Memilih Jadi Petani Pisang

"Kalau di Makassar itu kurang lebih satu tahun. Sekarang sudah mau selesai proyeknya. Ada 80 sampai 100 orang pekerja yang makan ke saya. Sistem kami itu prasmanan, jadi para pekerja bebas ambil. Per porsi Rp15-20 ribu," ungkapnya.

Sementara untuk bayarnya, ibu dua anak ini menuturkan bila pembayaran bisa dilakukan dua minggu satu kali. Pembayaran itu dilakukan masing-masing mandor pekerja, lewat potong gaji.

"Setiap habis makan, itu langsung saya catat habis berapa. Nanti bayarnya dua minggu satu kali. Itu yang bayar mandornya. Kalau proyek di Makassar itu ada empat mandornya. Seluruh pekerjanya kalau makan ya di saya," tuturnya.

Menurutnya, memberi makan para pekerja proyek gampang-gampang susah. Kadang mereka banyak permintaan menu yang tak disediakan saat itu. Sehingga, keesokan harinya menu yang dipesan baru bisa dihidangkan.

"Mereka kadang pilih-pilih makan. Dulu sempat mikir, asal kenyang mereka pasti semangat kerja. Kadang mereka juga request menu. Ya kita bikinkan sesuai pesanan. Yang lebih sering request itu para pekerja sih," imbuhnya.

Baca juga: Perjalanan Cinta dan Semangat dalam Segelas Kopikukini

Dalam menjalankan bisnis ini, Eka didampingi dua saudaranya dan dibantu dua orang. Selain mendapat gaji bulanan, mereka juga diperbolehkan makan sepuasnya.

"Bisnis ini saya jalankan sama lima orang saja. Tiga orang masih saudara dan dua orang ini membantu. Itung-itung bantu dua orang ini ngasih mereka makan juga. Gaji mereka perbulan Rp3 juta," sebutnya.

Meski baru dirintis, bisnis Eka ini memiliki omzet per bulan mencapai Rp80 juta. Sementara dalam waktu dekat, dia akan mengikuti tender proyek yang berada di Sidoarjo.

"Omzet kalau rame kadang mencapai Rp80 juta. Tapi kan belanjanya juga banyak. Ini ada tender proyek lagi di Sidoarjo. Proyek rumah sakit," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait