Pekerja menunjukkan hasil karya sepatu sekolah anak perempuan di toko sekaligus tempat produksi sepatu kulit merk Provillo, Kelurahan Sinoman, Kota Mojokerto, Kamis (9/7/2026).
Mili.id - Suara mesin jahit berpadu dengan aroma kulit memenuhi sebuah bengkel sepatu di Kota Mojokerto. Di tengah tumpukan pola, lembaran kulit, dan sol yang siap dirakit, Muhammad Rizaldi (33) tampak sibuk mengawasi proses produksi.
Ayah dua anak yang merupakan lulusan SMA Puri itu sedang berpacu dengan waktu. Musim tahun ajaran baru datang, dan bersamanya ribuan pasang sepatu harus segera diselesaikan.
Baca juga: Usai Mendaki, Pelajar Asal Surabaya Tewas Tabrakan dengan Truk KDMP di Mojokerto
Bagi Rizaldi, momen kembali ke sekolah selalu menjadi musim panen. Permintaan sepatu sekolah model pantofel bertali melonjak tajam hingga sekitar 500 persen dibanding hari-hari biasa.
Pesanan datang silih berganti, bukan hanya dari Mojokerto, tetapi juga Surabaya, Magetan, Malang, Tulungagung, Bali hingga Yogyakarta melalui jaringan reseller maupun pelanggan yang datang langsung ke workshop.
"Musim ajaran baru selalu menjadi momen paling sibuk bagi kami. Permintaan sepatu sekolah, khususnya model pantofel bertali, bisa meningkat hingga sekitar 500 persen dibanding hari biasa," ujar Rizaldi.
Kesibukan itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Rizaldi telah memahami ritme bisnis yang diwariskan keluarganya dengan merk Provillo. Usaha tersebut dirintis orang tuanya sejak 1996, bermula dari memproduksi sandal anak-anak.
Setelah krisis moneter, keluarga mereka memutuskan beralih memproduksi sepatu. Keputusan itulah yang hingga kini menjadi fondasi usaha yang terus berkembang.
"Usaha ini saya teruskan dari orang tua yang sudah memulai sejak 1996. Tugas saya sekarang bukan hanya menjaga warisan itu, tetapi juga mengembangkannya agar tetap relevan mengikuti kebutuhan zaman. Produk bisa berubah mengikuti tren, tetapi bisnis harus tetap hidup," katanya.
Menghadapi lonjakan pesanan, Rizaldi memilih memperkuat perencanaan produksi dibanding menambah tenaga kerja secara mendadak. Bahkan, setelah musim ajaran baru berakhir, ia sudah mulai menyiapkan produksi untuk kebutuhan sekolah tahun berikutnya agar tidak kehilangan momentum.
Baca juga: Gus Barra Resmikan Media Center di Mojokerto, Ruang Kolaborasi Pers untuk Perkuat Informasi Publik
"Begitu musim sekolah dimulai, kami sudah memikirkan produksi untuk tahun berikutnya. Perencanaan menjadi kunci agar kebutuhan pelanggan bisa terpenuhi," ungkapnya.
Di balik setiap pasang sepatu, terdapat proses panjang yang dikerjakan secara teliti. Mulai dari menggambar pola, memotong bahan, menjahit, merakit dengan sol, mengepres agar daya rekat maksimal, hingga tahap finishing sebelum dikemas. Rizal tetap mempertahankan penggunaan kulit sapi sebagai bahan utama, dipadukan dengan sol berbahan thermoplastic rubber yang kuat, lentur, dan tidak mudah licin.
"Kami memilih menggunakan kulit asli dan sol thermoplastic rubber karena kami ingin sepatu yang dipakai pelanggan tidak hanya nyaman, tetapi juga awet menemani aktivitas mereka," tutur Rizaldi.
Baginya, sepatu bukan sekadar produk yang dijual. Ada nilai dan cerita yang ikut berjalan bersama setiap langkah pemakainya. Dengan perawatan yang tepat, sepatu kulit buatannya mampu bertahan hingga dua atau tiga tahun, menemani pelajar, mahasiswa, hingga para pekerja.
Baca juga: Berkedok Perkenalan di Medsos, Pria Curi Motor Istri Orang Diringkus Polisi
"Bagi saya, sepatu bukan sekadar alas kaki. Setiap pasang sepatu akan menemani cerita pemiliknya, mulai dari bersekolah, kuliah, bekerja, hingga meraih cita-cita," ujarnya.
Kini, selain memproduksi sepatu sekolah, Rizaldi juga mengembangkan berbagai model formal dan kasual, bahkan menerima pesanan dengan merek pelanggan sendiri. Harganya pun beragam, mulai sekitar Rp150 ribu hingga Rp1 juta, tergantung bahan dan model yang dipilih.
Di tengah gempuran produk pabrikan dan impor, Rizaldi tetap optimistis. Ia percaya kualitas buatan tangan dan konsistensi menjaga mutu akan selalu memiliki tempat di hati pelanggan.
"Kami bangga karena sepatu dari Mojokerto sudah dipakai pelanggan di Surabaya, Bali, Yogyakarta, Magetan, Malang hingga Tulungagung. Itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus menjaga kualitas dan membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing," pungkasnya.
Editor : Redaksi
