Mili.id – Lapangan hijau selalu punya cara untuk melahirkan pahlawan baru dalam semalam. Pada Senin (15/6), sorotan dunia tertuju pada Vozinha. Kiper veteran Cape Verde yang sebelumnya nyaris tak dikenal itu mendadak jadi buah bibir global setelah tampil heroik menahan imbang juara Eropa, Spanyol, dengan skor kacamata 0-0.
Hanya dalam durasi 90 menit, nama Vozinha melambung, diikuti dengan ledakan popularitas di media sosial yang mengemas tambahan enam juta pengikut baru. Namun, begitu peluit panjang berbunyi, bukan hanya senyum kebahagiaan yang tampak di wajah sang penjaga gawang, melainkan derai air mata.
Baca juga: Infantino Kejar Dua Laga Sehari di Piala Dunia 2026, Andalkan Jet Pribadi untuk Mobilitas
"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya, dan sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal dunia beberapa tahun lalu," ujar Vozinha emosional kepada awak media di area mixed zone.
Kesedihannya kian berlipat karena tribun stadion malam itu terasa sepi tanpa kehadiran sosok ibu. Sang ibu gagal terbang ke Amerika Serikat akibat ganjalan birokrasi yang rumit dan mahal.
"Ibu saya tidak bisa datang karena persoalan visa. Karena besarnya uang yang harus kami bayarkan untuk jaminan visa, kami tidak berhasil menyelesaikan prosesnya tepat waktu," tuturnya lirih.
Tembok Birokrasi dan 'Aroma' Diskriminasi
Baca juga: Lukaku Jadi Penyelamat Belgia, Mimpi Bersejarah Mesir Pupus dalam 22 Detik
Kisah pilu Vozinha hanyalah puncak gunung es dari karut-marut penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat. Turnamen yang seharusnya menjadi pesta perayaan keberagaman global ini justru dibayangi oleh kebijakan imigrasi tuan rumah yang super ketat.
Cape Verde, negara asal Vozinha, masuk dalam daftar hitam baru AS yang mewajibkan warganya menyerahkan jaminan perjalanan yang dapat dikembalikan hingga US$ 15.000 (sekitar Rp266 juta) hanya untuk mendapatkan visa. Angka yang fantastis bagi sebagian besar keluarga pesepak bola dari negara berkembang.
Kondisi lebih buruk menimpa warga dari Haiti, Pantai Gading, Iran, dan Senegal, yang secara tegas dilarang masuk ke AS. Ironisnya, penolakan ini juga menyasar elemen penting pertandingan. Sang pengadil lapangan hijau asal Somalia, Omar Artan—yang diakui sebagai salah satu wasit terbaik FIFA—ditolak masuk ke AS sehari sebelum turnamen dimulai. Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) berdalih adanya masalah "pemeriksaan keamanan" dan menuduh Artan terkait jaringan terorisme.
Baca juga: Iran Bangkit Dua Kali, Selandia Baru Gagal Pertahankan Keunggulan di Laga Sengit Grup G
Kebijakan represif ini seolah mengonfirmasi sentimen lama. Pada Desember lalu, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan retorika kontroversial yang menyebut warga Somalia sebagai "sampah" dan meminta para imigran Afrika untuk kembali ke negara asal mereka.
Editor : Redaksi
