Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Untag Surabaya itu bernama Maulana Husein Syafri pencipta Briket Ramah Lingkungan dari Ampas Kopi dan Kulit Ari Kelapa (Foto: Rachmad FT/mili.id)
Surabaya, mili.id - Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menciptakan briket ramah lingkungan dari limbah ampas kopi dan kulit ari kelapa.
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Untag Surabaya itu bernama Maulana Husein Syafri.
Baca juga: Linimasa yang Sama, Risiko yang Tidak Setara: Teknologi Media dan Bayang KBGO di Indonesia
Inovasi yang memanfaatkan limbah organik dan mendukung gerakan energi terbarukan itu berhasil dikembangkan atas bimbingan Dosen Teknik Industri Untag Surabaya, Heri Murnawan.
Dalam proses pembuatannya, bahan dasar arang briket yang berupa ampas kopi dan kulit ari kelapa itu dikombinasikan dengan tepung tapioka dan air sebagai perekat.
"Setelah mendapatkan komposisi yang tepat, campuran ini dipadatkan menggunakan cetakan khusus untuk menghasilkan briket dengan bentuk yang dapat disesuaikan," ungkap Maulana, Selasa (18/2/2025).
Sebagai bagian dari inovasinya, Maulana juga merancang alat pencetak briket yang dilengkapi dengan heater untuk mempercepat proses pengeringan.
"Teknologi ini membuat proses produksi lebih efisien. Desain alat pencetak juga fleksibel, sehingga bentuk cetakan dapat diubah sesuai kebutuhan pengguna," jelas dia.

Pencampuran dilakukan dengan memanfaatkan limbah ampas kopi dari coffee shop yang beberapa dekade ini sangat melimpah serta limbah kulit ari kelapa dari 330 kilogram per bulan dan limbah kulit ari kelapa dari UMKM Ridho Abadi yang mencapai 240 kilogram per bulan.
Baca juga: Surabaya Kini Punya Kampung Inggris, Terinspirasi dari Pare Kediri
"Saya menggunakan bahan dari coffee shop dan UMKM dengan kualitas yang lebih bersih dan efisien," papar Maulana.
Briket hasil inovasi ini memiliki daya tahan tinggi dan menghasilkan lebih sedikit residu dibandingkan bahan bakar konvensional.
"Briket ini mampu bertahan hingga dua jam saat digunakan dan hanya menghasilkan sekitar satu persen residu abu, jauh lebih sedikit dibandingkan arang konvensional," terang dia.
Melihat potensi besar dari inovasi ini, Maulana berencana mengembangkannya menjadi usaha produksi dan penjualan briket berbasis limbah kopi dan kulit ari kelapa.
"Saya optimis produk ini memiliki peluang pasar yang menjanjikan dan berencana membuka usaha dalam waktu dekat," tambah dia.
Maulana juga menyarankan agar inovasi ini dapat dikembangkan menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan meningkatkan kapasitas mesin produksi.
"Pemilik UMKM sebaiknya memperbesar kapasitas mesin produksi agar dapat meningkatkan volume produksi dan memaksimalkan hasilnya," ujar dia.
Dengan adanya inovasi seperti ini, Untag Surabaya semakin menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam penelitian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan. Maulana dijadwalkan akan diwisuda pada 23 Februari mendatang.
Editor : Narendra Bakrie
