Ilustrasi
Surabaya, mili.id - Setiap tanggal 15 Februari, dunia memperingati sebagai Hari Kuda Nil. Peringatan ini ditujukan untuk merayakan keberadaan kuda nil serta mendorong semua pihak agar mengambil tindakan guna mencegah kepunahan hewan tersebut.
Kekeringan telah menyebabkan hilangnya habitat, dan perburuan kuda nil, baik untuk daging maupun gigi gadingnya, juga menjadi ancaman besar bagi mamalia besar yang doyan berkubang di lumpur ini.
International Union for Conservation of Nature (IUCN) mendaftarkan mereka sebagai spesies yang rentan pada tahun 2006 setelah menetapkan bahwa populasi kuda nil telah menurun sebanyak 20 persen dalam dua dekade sebelumnya.
Sejarah Penetapan Hari Kuda Nil Sedunia
Para ahli percaya bahwa kuda nil modern berevolusi di Afrika sekitar 8 juta tahun yang lalu. Saat ini hanya ada dua jenis, kuda nil rawa-standar dan kuda nil kerdil yang lebih kecil.
Namun tetapi, beberapa spesies lain yang sekarang sudah punah dapat ditemukan di seluruh Eropa dan di Madagaskar sekitar 1.000 tahun yang lalu.
Kuda nil sekarang paling umum di negara-negara seperti Zambia dan Tanzania. Pada abad ke -20 , upaya dilakukan untuk memperkenalkan kuda nil ke AS.
The "American Hippo Bill", yang diangkat pada tahun 1910, mengusulkan untuk memperkenalkan peternakan kuda nil di Louisiana.
Tidak hanya untuk membantu mengendalikan tanaman tertentu yang mengambil alih bayous tetapi juga untuk mengatasi krisis daging Amerika.
Namun, RUU itu tidak berhasil lolos Kongres, sehingga kuda nil tetap berada di Afrika asalnya sampai tahun 1980-an, ketika pemimpin kartel narkoba terkenal Pablo Escobar (secara ilegal) mengimpor empat kuda nil dan membawanya ke tanah miliknya di Columbia.
Jumlah mereka telah meningkat secara dramatis sejak itu, mungkin sebanyak 100 ekor. Meskipun kuda nil telah menjadi simbol daerah tersebut.
Ketidakmampuan mereka untuk dikelola terus menimbulkan masalah yang signifikan bagi otoritas setempat. Sebaliknya, di Afrika, jumlah kuda nil menurun drastis.
Fakta-Fakta Tentang Kuda Nil
1. Kekerabatannya Lebih Dekat dengan Paus daripada Gajah
Meskipun secara fisik kuda nil lebih mirip dengan hewan darat seperti badak atau gajah, penelitian menunjukkan bahwa kerabat terdekat mereka sebenarnya adalah paus dan lumba-lumba.
Kuda nil dan cetacea (kelompok yang mencakup paus, lumba-lumba, dan pesut) berbagi nenek moyang yang sama sekitar 55 juta tahun yang lalu.
Oleh karena itu, mereka dikelompokkan dalam ordo yang sama, yaitu Artiodactyla, yang juga mencakup hewan berkuku genap seperti rusa dan babi.
2. Kuda Nil Tidak Bisa Berenang ataupun Mengapung
Banyak orang mengira, kuda nil adalah perenang ulung karena sering terlihat berada di dalam air. Namun, faktanya, mereka tidak bisa berenang atau mengapung.
Tubuh mereka yang sangat padat membuat mereka tenggelam di air, sehingga mereka bergerak dengan cara berjalan atau melompat di dasar sungai.
3. Mampu Menghasilkan Cairan Khusus sebagai Tabir Surya Alami
Salah satu adaptasi unik kuda nil, kemampuannya menghasilkan cairan berminyak berwarna merah yang sering disebut sebagai "keringat darah."
Namun, cairan ini bukanlah darah, melainkan sekresi alami yang berfungsi sebagai pelembab kulit, tabir surya, dan pelindung dari infeksi bakteri.
Kandungan dalam cairan ini mampu menyerap sinar ultraviolet dan membunuh bakteri yang dapat menyebabkan luka infeksi.
Inilah alasan mengapa kuda nil jarang mengalami luka serius meskipun sering bertarung di alam liar.
4. Hewan Teritorial
Kuda Nil Sangat Teritorial Saat Berada di Dalam Air
Meskipun di darat kuda nil tidak menunjukkan sikap teritorial, di dalam air mereka justru sangat agresif dalam mempertahankan wilayahnya.
Kuda nil jantan mendominasi suatu area perairan dan melindunginya dari pejantan lain.
Mereka menggunakan berbagai cara untuk menunjukkan dominasi. Seperti membuka mulut lebar-lebar guna memperlihatkan taring tajam mereka.
5. Bisa Berkomunikasi di Dalam Air dan Darat Secara Bersamaan
Salah satu kemampuan unik yang dimiliki kuda nil adalah cara mereka berkomunikasi. Mereka dapat mengeluarkan suara yang dapat didengar baik di udara maupun di bawah air secara bersamaan.
Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap berkomunikasi dengan kawanannya meskipun sebagian besar tubuh mereka berada di dalam air.
Adaptasi ini sangat berguna untuk menjaga hubungan sosial dalam kelompok mereka. Pun untuk berkoordinasi saat menghadapi ancaman.
Editor : Aris S
