ilustrasi.
mili.id- Tepat pada 9 Desember 1947 atau 77 tahun yang lalu, di Indonesia pernah terjadi tragedi berdarah yang disebut dengan Pembantaian Rawagede (kini bernama Desa Balongsari) Karawang, Jawa Barat oleh penjajah Belanda.
Sebelum pembantaian terjadi, tentara Belanda saat itu menyerang Bekasi. Sontak hal itu membuat penduduk pribumi mengungsi ke Rawagede untuk menyelamatkan diri dari serbuan Belanda melalui KNIL.
Baca juga: Tragedi di Karawang: Truk Kontainer Tabrak Sedan, Ayah, Ibu & Balita Tewas di Lokasi
Tentara KNIL yang mengetahui hal tersebut turut menyerang daerah Rawagede. Pertempuran pecah di dua daerah hingga menyebabkan ratusan orang dari kalangan sipil tewas dibantai tanpa alasan.
Alasan Belanda Melakukan Pembantaian
Pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia, tentara Belanda masih terus berusaha menguasai kembali wilayah Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli-5 Agustus 1947.
Setelah tentara Belanda datang bersama tentara Sekutu, mereka berhasil menguasai wilayah Jawa Barat. Akibatnya, Tentara Republik Indonesia (TRI) banyak yang memilih mundur.
Mereka bersembunyi ke pedesaan dan bergabung bersama rakyat setempat untuk membangun benteng pertahanan untuk menghadapi serangan dari Belanda dan sekutunya.
Beberapa pasukan TRI bermarkas di Desa Rawagede dan dipimpin oleh Kapten Lukas Kustarjo. Sejak lama, Kapten Lukas memang sudah menjadi incaran Belanda karena ia berkali-kali telah menyerang pos-pos militer Belanda.
Alasan Desa Rawagede dijadikan sebagai markas pertahanan oleh TRI adalah berada di tengah segi tiga konsentrasi tentara Belanda yang bermarkas di Karawang, Cikampek, dan Rengasdengklok, serta daerah strategis yang masi pro-NKRI.
Namun, persembunyian TRI itu dapat terendus oleh antek-antek Belanda. Saat Kapten Lukas sedang menelusuri perjalanan menuju Sukatani, Bekasi, perjalanan mereka tercium oleh mata-mata Belanda.
Antek-antek ini segera melapor ke pihak militer Belanda bahwa Kapten Lukas telah menyusup ke Rawagede. Tanpa pikir panjang, militer Belanda mempersiapkan rencana penyerangan mendadak terhadap Kapten Lukas dan prajuritnya.
Baca juga: Bareskrim Bongkar Penyalahgunaan BBM Bersubsidi di Tuban dan Karawang
Setelah pasukan dan semua alat perang sudah siap, tentara Belanda yang dipimpin oleh Mayor Wajiman langsung menyerbu Desa Rawagede pada pagi hari tanggal 9 Desember 1947.
Dalam penyerangan ini, Mayor Wajiman berusaha mencari keberadaan Kapten Lukas sembari terus memerintahkan penyerangan dengan cara mengacak-acak bangunan yang jadi tempat persembunyian.
Karena keberadaan Kapten Lukas masih belum juga diketahui, Mayor Wajiman mengumpulkan penduduk laki-laki berusia sekitar 14 tahun di lapangan. Satu per satu dari mereka ditanyai perihal keberadaan Kapten Lukas, tetapi tidak ada satu pun yang mengetahuinya.
Sebagai seorang Mayor, Wajiman tak langsung percaya begitu saja. Para pria yang sempat ditawan ini kemudian diperintahkan jongkok membelakangi tentara Belanda dengan kedua tangan diletakkan di atas kepala.
Dalam sekejap, eksekusi demi eksekusi berlangsung dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah itu, aksi mereka dilanjutkan dengan melakukan penggeledahan di daerah-daerah pelosok.
Baca juga: Ketum PBNU Dapat Gambaran Terkait Penyerangan Banser Pengawal Kiai di Karawang
Peristiwa pembantaian Rawagede berlangsung dengan sangat tragis. Dalam sekejap, mayat-mayat mulai berjatuhan setelah dieksekusi oleh Belanda. Korban pembantaian itu umumnya berasal dari kalangan masyarakat sipil.
Penyelesaian Masalah Setelah 431 Orang Tewas Dibantai
Keesokan harinya, seluruh penduduk desa yang masih hidup memberanikan diri keluar dari rumah mereka. Begitu keluar, mereka langsung melihat banyak mayat bergelimpangan. Jumlah korban yang tewas akibat Pembantaian Rawagede diperkirakan mencapai 431 orang.
Sementara itu, Kapten Lukas yang menjadi incaran utama Belanda tak juga ditemukan saat itu, meski Belanda melakukan pembantaian dengan sagat keji. Kapten Lukas berhasil meloloskan diri dan wafat pada 8 Juni 1997.
Untuk mengenang para korban Pembantaian Rawagede, pemerintah Kabupaten Karawang memerintahkan kepala Desa Rawagede membuat Taman Makam Pahlawan. Kemudian, sejak 10 November 1951, taman makam pahlawan Rawagede dikukuhkan menjadi Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga Rawagede.
Editor : Achmad S
