Sejarah Panjang Lebaran Ketupat dan Filosofi di Baliknya

Sejarah Panjang Lebaran Ketupat dan Filosofi di Baliknya © mili.id

Ketupat (Foto: Amatir warga)

Surabaya - Lebaran ketupat yang diperingati setiap sepekan setelah 1 Syawal atau Idulfitri, sudah menjadi tradisi turun temurun bagi umat muslim Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Tradisi kupatan dilambangkan sebagai jamuan untuk memupuk rasa syukur, mempererat silaturahmi, hingga senter dikaitkan sebagai bentuk pelestarian ajaran budaya leluhur.

Baca juga: Apresiasi Dedikasi Operasi Ketupat Semeru 2026, Wakapolrestabes Surabaya Serahkan Penghargaan Pos Pam Terbaik

Sejarah Lebaran Ketupat

Dirangkum mili.id dari berbagai sumber, tradisi kupatan muncul pertama kali dikenalkan oleh Sunan Kalijaga atau Raden Sahid.

Di era Wali Songo itulah, kupatan ini dikenalkan ke masyarakat. Sebagai terusan dari tradisi 'slametan'. Dan sekaligus dijadikan sarana untuk mengenalkan ajaran ajaran Islam, mengenai cara bersyukur, bersedekah dan bersilaturahim di hari lebaran.

Selain itu, tradisi kupatan dari Sunan Kalijaga ini juga bermakna mengenalkan hadist Nabi Muhamman SAW, tentang puasa sunah setelah 1 Syawal (puasa Syawal) yang dilaksanakan 6 hari, dimulai sejak hari kedua lebaran (2 hari usai Salat Ied).

Filosofi Ketupat

Arti kata "ketupat" atau "kupat" berasal dari Bahasa Jawa berarti "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan. Sehingga, dengan adanya perantara ketupat ini, sesama Muslim diharapkan bisa mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

Baca juga: Polres Malang Ungkap Volume Kendaraan Masuk Malang Tembus 200 Ribu Lebih Saat Lebaran

Memaafkan serta melupakan kesalahan tersebut, tentunya dengan cara memakan jamuan ketupat.

Sementara rumitnya anyaman pada bungkus ketupat itu juga mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia. Berbeda dengan warna putih beras di dalamnya yang melambangkan kemakmuran.

Sedangkan dari bentuk ketupat yang segi empat itu memiliki filosofis, yakni 'kiblat papat lima pancer' atau yang bermakna bahwa ke mana pun manusia itu menuju, pasti selalu kembali kepada Allah.

Dan untuk daun yang dipilih untuk membungkus ketupat adalah dari janur (daun kelapa), ini diambil serapan dari Bahasa Arab yakni Ja'a Nur yang berarti "telah datang cahaya".

Baca juga: Kunjungan Wisata Naik 31 Persen, Kapolda Jatim Pastikan Pengamanan Tetap Berjalan Lewat KRYD

Tersirat dalam bentuk ketupat ketika dibelah berwarna putih, dan itu melambangkan orang yang memakan ketupat hatinya terbebas dari rasa iri dan dengki, lantaran hatinya ini sudah dibungkus oleh Ja'a Nur.

Sehingga, dari berbagai makna mendalam yang terkandung di ketupat tersebut, banyak masyarakat menganggap ketupat sebagai perangkat atau piranti untuk menolak bala.

Biasanya mereka meletakkan di atas pintu depan rumah bersama pisang, dalam jangka waktu berhari-hari, bahkan berulan-bulan sampai kering.

 

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait