Pj Wali Kota Mojokerto Moh. Ali Kuncoro didampingi Ketua PKK Nia Ali Kuncoro di Pendopo Sabha Kridatama, Rumah Rakyat, Senin (18/3/2024) - (Foto: Istimewa)
Mojokerto - Rembuk Stunting menjadi ikhtiar Pemkot Mojokerto melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penyakit, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) untuk mempersiapkan generasi emas Tahun 2045.
Kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2024 itu dibuka langsung Pj Wali Kota Mojokerto Moh. Ali Kuncoro didampingi Ketua PKK Nia Ali Kuncoro di Pendopo Sabha Kridatama, Rumah Rakyat, Senin (18/3/2024).
Baca juga: Idul Adha Dan Waisak, Tempat Hiburan Sampai Panti Pijat Dilarang Buka di Kota Mojokerto
"Ini adalah salah satu ikhtiar kita untuk mempersiapkan generasi emas di Tahun 2045. Dan jadi tanggung jawab semua elemen strategis di Kota Mojokerto, harus gerakan yang harmonis partnership multihelix, baik pemerintah, TNI-Polri, pengusaha, media, akademisi semua harus kita libatkan," ujar Ali.
Tercatat dalam Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM), prevalansi stunting di Kota Mojokerto menunjukkan penurunan selama 4 tahun terakhir.
Pj Wali Kota Mojokerto Moh. Ali Kuncoro menandatangani nota kesepakatan rembuk Stunting Tahun 2024 (Foto: Istimewa)
Yakni, 9.04 persen pada Tahun 2019, 7.71 persen di Tahun 2020, 4.84 persen di Tahun 2021, 3.12 persen di Tahun 2022, dan menjadi 2.04 persen di Tahun 2023.
"Per akhir Tahun 2023 angka stunting kita masih di angka 2.04 atau setara 122 balita stunting, ini dari total balita di Kota Mojokerto sebanyak 6.145 balita," jelas Mas Pj-sapaan walikota.
"Dan alhamdulillah pada Februari tahun ini sudah terjadi penurunan yang cukup signifikan, sehingga data terakhir tekoreksi di angka 2 persen atau 117 balita," tambahnya.
Selain itu, Tahun 2023 lalu, Kota Mojokerto mendapat predikat 'Kota Terinovatif' di mana yang menjadi indikator penilaian utama adalah inovasi terkait pencegahan stunting.
Yakni, inovasi Canting Gula Mojo (Cegah Stunting, Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto) dan Gempa Genting (Segenggam Sampah Gawe Stunting).
Baca juga: Ular Besar Masuk Rumah Warga Magersari, Petugas BPBD Kota Mojokerto Evakuasi dari Bawah Lemari
"Ini sesuatu yang luar biasa dan ini diapresiasi oleh Kemendagri, sehingga Kota Mojokerto mendapat predikat Kota Terinovatif se-Indonesia," bebernya.
Mas Pj mengatakan, hingga saat ini Pemkot Mojokerto terus berkomitmen dan bekerja keras untuk mewujudkan Kota Mojokerto Zero New Stunting di Tahun 2024.
"Kita tadi sudah melakukan penandatanganan komitmen bersama dan berikrar bahwa tahun 2024 Kota Mojokerto harus menjadi kota yang Zero New Stunting. Saat ini kita terus bekerja keras bagaimana angka stunting yang masih ada ini terus kita intervensi sehingga semakin berkurang," jelas dia.
Sebagai komitmen nyata, lanjut Mas Pj, Tahun 2024 ini Pemkot Mojokerto menyiapkan total anggaran sebesar Rp98,2 miliar untuk penanganan stunting.
Kadinkes Dinas Kesehatan PPKB Kota Mojokerto, dr Farida Mariana menandatangani nota kesepakatan rembuk Stunting Tahun 2024 (Foto: Istimewa)
Baca juga: Harga Turun, Sapera Justru Jadi Primadona! Kisah Polisi di Mojokerto yang Sukses Bangun 5 Kandang
"Saya pikir kita pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini, asalkan kita lakukan secara masif, spesifik, sensitif, dan koordinatif dan bersifat sapu jagat, hampir semua OPD kita libatkan," papar Mas Pj.
Sementara Kadinkes Dinas Kesehatan PPKB Kota Mojokerto, dr Farida Mariana menambahkan, selama ini semaksimal mungkin masing-masing fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) turut melahirkan inovasi-inovasi untuk penanganan sekaligus pencegahan kasus stunting.
Hasilnya, puluhan inovasi mampu dilahirkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
"Dari enam puskesmas, masing-masing memiliki berbagai macam inovasi, termasuk dalam penanganan stunting," pungkas Farida. (ADV)
Editor : Redaksi
