Ilustrasi ibu dan banyinya (Foto: Freepik.com)
Surabaya - Ibu muda bernama Mukarromah (25), warga Desa Panpajung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan mengaku melahirkan bayi dengan kepala tertinggal dalam rahim.
Video pengakuan ibu muda itu pun viral. Dalam pengakuannya, dia mengatakan saat itu ingin melahirkan lebih awal, sebab bayinya dalam kondisi sungsang.
Baca juga: Polres Bangkalan Amankan Tersangka Dalang Penyekapan Satu Keluarga asal Jombang
"Saya ke bidan kampung (dekat rumah). Terus dari bidan kampung saya suruh rujukan ke puskesmas. Akhirnya, saya berangkat langsung ke puskesmas," terang Mukarromah dalam video tersebut dikutip mili.id, Selasa (12/3/2024).
Saat itu juga Mukarromah menuju ke Puskesmas Kedungdung. Sampai di puskesmas, dia meminta dirujuk ke rumah sakit di Bangkalan. Alasannya ingin melahirkan secara operasi.
Namun pihak puskesmas tetap menangani persalinan Mukarromah. Waktu awal ditangani, lanjut Mukarromah, bayinya masih dalam kondisi hidup dan masih bergerak.
"Terus dia (petugas puskesmas) telepon ke bidan. Terus bidan akhirnya datang terus pembukaan katanya empat," tutur dia.
Dari situ, Mukarromah disuruh bidan mendorong bayinya supaya keluar dari rahimnya. Namun, saat bayinya keluar, kondisi kepalanya masih tersangkut di dalam rahim.
"Terus disuruh ngejen lagi terus saya enggak kuat akhirnya patah. Apanya yang patah? Badannya, kepalanya di dalam. Sempat ditarik sama bidannya ditarik. Saya enggak tahu soal dipotong atau enggak saya enggak tahu, namun itu ditarik," terangnya.
Mukarromah kembali meminta pihak puskesmas untuk merujuk ke rumah sakit Bangkalan, dengan niatan untuk mengeluarkan kepala bayinya yang masih tersangkut di dalam rahim.
Penjelasan Dinkes Bangkalan
Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bangkalan, Nur Chotibah buka suara soal peristiwa tersebut.
Nur mengatakan telah melakukan audit internal, yang melibatkan tiga dokter spesialis, di antaranya Kepala Puskesmas Kedungdung, satu bidan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bangkalan.
Nur membenarkan bahwa Mukarromah memang pasien dari Puskesmas Kedungdung, ditangani pada Selasa (5/3/2024) lalu.
Baca juga: Kambuaya Jadi Penentu, Dewa United Comeback Tundukkan Madura United 2-1
Dia menyebut bahwa sebenarnya bayi dalam kandungan Mukarromah itu telah meninggal dunia. Tapi ada miskomunikasi antara pihak Puskesmas Kedungdung dengan pihak keluarga Mukarromah.
"Pihak puskesmas sudah mengetahui kalau bayi tersebut sudah meninggal. Namun disampaikan kepada pihak keluarga bukan dengan bahasa meninggal, melainkan dengan bahasa detak jantungnya sudah tidak ada," ujar Nur dalam jumpa pers di Kantor Kominfo Kabupaten Bangkalan, Selasa (12/3/2024).
Nur menjelaskan, proses persalinan Mukarromah itu tergolong cepat. Dari pembukaan 4 langsung ke pembukaan 6 dan pembukaan lengkap. Sehingga, pihak puskesmas harus segera membantu proses persalinannya di Puskesmas Kedungdung.
"Badan sudah dilahirkan, letak sungsang kelihatan bokong, akhirnya dibimbing oleh tim penolong yang ada di Puskesmas Kedungdung. Seperti yang disampaikan tadi, kematian telah terjadi 7 sampai 10 hari. Sehingga terjadilah maserasi, melepuh, dan menjadi penyebab tertinggalnya kepala dalam rahim," ungkap dia.
Di sisi lain, dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (obgyn) atau kandungan RSIA Glamour Husada Kebun, Bangkalan, dr Surya Haksara menerangkan, pihaknya menerima penanganan Mukarromah dengan kehamilan tinggal kepala saja ketika itu.
Surya menegaskan bahwa bayi itu sudah meninggal dalam kandungan atau Intrauterine Fetal Death (IUFD).
Baca juga: UTM–Kadin Bangkalan Teken MoU, Dorong Akselerasi Ekonomi Berbasis Industri Maritim
"Saya melihat kepala bayi itu memang sudah maserasi, tanda bayi meninggal dalam kandungan sudah minimal lebih dari 2x24 jam. Jadi sangat rapuh sekali, kita pegang sedikit saja, semisal kita pegang dari bahu ke lengan, kalau sudah rapuh ya lepas," papar Surya.
Surya menerangkan, dari hasil kesimpulan audit maternal, bayi itu telah meninggal dengan autopsi maserasi tingkat III. Bayi tersebut meninggal dunia sekitar 7-8 hari dengan kulit leher bagian belakang sudah terkelupas.
"Apapun kalau sudah meninggal di dalam, semuanya akan rapuh. Karena proses pembusukan dari jenazah itu berjalan terus sehingga rapuh, ringkih. Posisi bayi letak sungsang," terangnya.
Polisi Turun Tangan
Terpisah, dalam rangkaian kasus tersebut pihak keluarga telah melapor ke Polres Bangkalan. Saat ini kasus tersebut tengah diselidiki, dimulai dengan pemeriksaan saksi-saksi.
"Iya, sudah diterima laporan tersebut. Kini kasus ditangani Satreskrim Polres Bangkalan, dan sudah dilakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi termasuk bidan yang menangani," ujar Kasi Humas Polres Bangkalan, Iptu Risna Wijayanti, Selasa (12/3/2024).
Editor : Narendra Bakrie
