Mia Nur Khasanah, kakak kandung Bintang (Foto: Eko Purwanto/mili.id)
Banyuwangi - Sebelum tewas dengan kondisi tak wajar, Bintang Balqis Maulana (14) intens berkirim pesan melalui WhatsApp (WA) kepada keluarga.
Salah satu pesan yang dikirim Bintang adalah meminta Suyanti (38), ibu kandungnya agar menjemputnya dari pesantren di Kediri.
Baca juga: Polres Kediri Kota Ringkus Pelaku Spesialis Pecah Kaca Mobil, Beraksi di 13 TKP Lintas Daerah
Baca juga: Pilu Santri asal Banyuwangi, Jenazah Pulang Penuh Luka Lebam dari Kediri
Komunikasi itu jelas terekam dalam pesan WA antara almarhum dengan ibunya. Ibunya pun tak menyangka itu bakal jadi percakapan terakhirnya dengan anak bungsunya tersebut.
"Minta dijemput. Tak tanya alasannya kenapa tidak disebutkan. Intinya minta dijemput," ungkap Suyanti kepada mili.id, Senin (25/2/2024).
Pesan ingin pulang itu, lanjut Suyanti, dikirim Bintang mulai hari Senin (19/2) lalu. Tak banyak yang diketik bungsu dengan watak pendiam tersebut. Yang diminta hanya minta dijemput.
Suyanti pun meminta Bintang untuk sabar menanti hingga bulan ramadan. Namun Bintang tetap meminta untuk segera dijemput.
"Sabar tunggu ramadhan gak bisa ta nak? Gak, kata dia (Bintang). Begitu jawabnya singkat dalam pesan WA yang saya terima," terang Suyanti.
"Ditambah lagi saya merantau di Bali bersama kakaknya. Ketika hendak saya jemput sehari setelahnya katanya tidak usah. Sudah enak dan nyaman begitu katanya," tambahnya .
Sesekali Suyanti meminta putranya untuk segera mengambil uang yang ia kirim. Disuruhnya untuk membeli obat. Pesan itu diutarakan mengingat Bintang sempat mengeluhkan sakit.
Bahkan untuk memacu anaknya semangat menuntut ilmu, Suyanti menjanjikan satu unit motor baginya. Pesan itu disampaikan pada rangkaian terakhir pesan singkatnya dengan Bintang.
Baca juga: Budidaya Uwi Ungu Polres Kediri Terus Berkembang Dukung Ketahanan Pangan Lokal
"Doakan mama ma mbake. Jaga diri jaga kesehatan. Semangat belajar karena lulus satu tahun lagi motor menanti," papar Suyanti lewat pesan singkatnya tersebut.
Suyanti tak kuasa membendung tangis saat bungsu yang ia banggakan itu pulang dengan kondisi mengenaskan.
Padahal, niat Suyanti memasukkan putranya ke pesantren dengan harapan Bintang jadi anak yang pandai agama. Mengingat dua kakaknya putus sekolah sampai jenjang SMP akibat keterbatasan biaya.
Namun mimpi Suyanti kini sirna. Bintang diantar pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) PTQ Al Hanifiyyah Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri menuju Banyuwangi menggunakan ambulans.
Sampai video berisikan teriakan dan isak tangis keluarga korban kepada seorang pria bersarung viral di media sosial.
Keluarga menduga Bintang dianiaya, bukan terjatuh dari kamar mandi seperti yang disampaikan pihak pesantren. Luka lebam, sundutan rokok hingga jeratan pada leher terlihat begitu jelas. Begitulah yang diungkapkan Mia Nur Khasanah (22), kakak kandung korban.
Baca juga: Jelang Purna Tugas, Personel Polres Kediri Terima Kenaikan Pangkat Pengabdian
"Astaghfirullah. Luka Lebam di sekujur tubuh ditambah ada luka seperti jeratan leher. Hidungnya juga terlihat patah. Tak kuasa menahan tangis. Ini sudah pasti bukan jatuh tapi dianiaya," ungkap Mia.
Jenazah Bintang sempat dibawa oleh Polsek Glenmore ke RSUD Blambangan, setelah mendapat laporan dari pihak keluarga.
"Di RSUD Banyuwangi hanya dilakukan pemeriksaan luar (visum) pada jasad korban," jelas Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi, Kompol Andrew Vega.
Setelahnya, kasus kematian Bintang telah ditangani Polres Kediri Kota.
"Jadi selanjutnya penanganan kasus ini ditangani Polres Kediri Kota," pungkas Andrew.
Editor : Narendra Bakrie
