Mili.id– Harga bahan bakar di Selandia Baru mengalami penurunan pada Mei 2026 setelah sebelumnya meningkat selama dua bulan berturut-turut.
Namun di sisi lain, harga pangan masih menunjukkan tren kenaikan yang berdampak pada biaya hidup masyarakat.
Baca juga: Pertamax Dorong Warga Surabaya Lakukan Penyesuaian Gaya Hidup
Berdasarkan data resmi yang dirilis Stats NZ, harga bensin turun 3,8 persen dibandingkan April 2026, sementara harga solar mengalami penurunan lebih tajam sebesar 11,4 persen.
Penurunan tersebut terjadi setelah harga kedua jenis bahan bakar itu sempat mengalami kenaikan pada Maret dan April.
Meski demikian, secara tahunan harga bahan bakar masih berada pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga bensin tercatat naik 28,7 persen dalam 12 bulan terakhir, sedangkan harga solar melonjak hingga 76,8 persen.
Juru Bicara Harga dan Deflator Stats NZ, Nicola Growden, mengatakan penurunan harga juga terjadi pada sektor transportasi udara.
Baca juga: Ojol di Semarang Terjepit Kenaikan Pertamax dan Oli: “Motor Rusak atau Anak Tidak Makan”
Tarif penerbangan domestik turun 11,4 persen selama Mei, sementara tiket penerbangan internasional turun 5,5 persen sejalan dengan pola musiman yang biasa terjadi pada periode tersebut.
Namun jika dibandingkan secara tahunan, tarif penerbangan masih mengalami kenaikan. Harga tiket penerbangan domestik meningkat 2,8 persen, sedangkan penerbangan internasional naik 8,2 persen.
Di tengah penurunan harga energi dan transportasi, harga pangan justru terus mengalami kenaikan. Pada Mei 2026, harga pangan naik 1 persen dibanding bulan sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga produk kebutuhan sehari-hari, buah-buahan, serta sayuran.
Baca juga: Pertamina Ungkap Alasan Harga Pertamax Naik: Demi Jaga Stok BBM Tetap Aman
Data Stats NZ menunjukkan kenaikan harga susu kemasan dua liter menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi pangan, bersama dengan kenaikan harga daging paha domba, paprika, dan mentega.
Secara tahunan, harga pangan di Selandia Baru meningkat 3,2 persen. Kelompok daging, unggas, dan ikan menjadi komoditas dengan kenaikan harga terbesar, disusul makanan restoran dan makanan siap saji.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun tekanan harga energi mulai mereda, masyarakat Selandia Baru masih menghadapi tantangan akibat meningkatnya harga kebutuhan pokok yang terus memengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Editor : Redaksi
