Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS per pagi (12/5/2026).
Mili.id – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan tajam pada perdagangan Selasa pagi (12/5/2026). Mata uang Garuda kini menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.500 per dolar AS, merosot dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.414.
Pelemahan ini membawa rupiah bergerak di zona merah dengan koreksi yang kian dalam, dipicu oleh kombinasi sentimen geopolitik global dan tekanan di pasar modal domestik.
Baca juga: Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz, Kaitkan dengan Situasi Lebanon dan Ekspor Minyak
Gagalnya Diplomasi AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pasar bereaksi negatif terhadap kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran. Penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal damai Iran membuat kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka kembali mencuat.
"Harapan damai yang meredup serta harga minyak mentah dunia yang tetap tinggi menjadi beban berat bagi nilai tukar rupiah hari ini," ungkap Lukman.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas
Tekanan Ganda: IHSG dan Rebalancing MSCI
Selain isu global, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh rencana pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Langkah rebalancing indeks ini diprediksi akan mendepak sejumlah saham dari daftar serta melakukan downgrade pada beberapa saham berkapitalisasi besar, yang berujung pada potensi aliran modal keluar (outflow).
Meskipun data penjualan ritel Maret 2026 diprediksi naik menjadi 6,8 persen, sentimen positif tersebut tampaknya belum mampu membendung laju penguatan dolar AS yang perkasa di pasar global.
Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium
Para pelaku pasar kini mewaspadai pergerakan rupiah yang diprediksi akan terus tertahan di kisaran bawah Rp17.450 hingga Rp17.550 per dolar AS sepanjang hari ini.
Editor : Redaksi
