Jakarta

BiMo Akhiri Perjalanan Literasi di Jakarta, Perkuat Jembatan Budaya Indonesia–Prancis

BiMo Akhiri Perjalanan Literasi di Jakarta, Perkuat Jembatan Budaya Indonesia–Prancis © mili.id

Upacara penutupan digelar pada 28 April di Taman Menteng, Jakarta, Direktur IFI, Jules Irrmann bersama anak-anak sekolah Menteng, Jakarta Pusat

Mili.id– Setelah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari enam bulan menyusuri berbagai kota di Pulau Jawa, program perpustakaan keliling Bibliothèque Mobile (BiMo) resmi ditutup dalam sebuah seremoni di Taman Menteng, Selasa (28/4/2026). Penutupan ini menjadi penanda berakhirnya satu bab penting dalam upaya menumbuhkan budaya membaca di kalangan generasi muda Indonesia.

Program BiMo merupakan bagian dari inisiatif “AYO BACA!”, hasil kolaborasi antara Institut français d’Indonésie dan Penerbit Erlangga. Inisiatif ini dirancang untuk memperluas akses literasi sekaligus memperkenalkan karya sastra Prancis kontemporer kepada masyarakat Indonesia, khususnya pelajar.

Peluncuran program “AYO BACA!” dilakukan pada Mei 2025 oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prancis ke Indonesia. Momentum tersebut menegaskan komitmen kedua negara dalam mempererat kerja sama budaya melalui literasi dan pertukaran pengetahuan.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 23 September 2025 di Taman Bungkul, BiMo menjelma menjadi ruang belajar alternatif yang menarik bagi pelajar. Perpustakaan bergerak ini kemudian melanjutkan perjalanannya ke sejumlah kota, seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, hingga Bandung, sebelum akhirnya menutup tur di Jakarta.

Di setiap kota persinggahan, BiMo menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang dikemas secara interaktif. Mulai dari lokakarya membaca, permainan bahasa Prancis, hingga pertunjukan seni yang melibatkan siswa secara langsung. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan buku sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana eksplorasi kreativitas dan imajinasi.

Direktur IFI, Jules Irrmann, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program BiMo membawa misi sederhana namun berdampak besar, yakni menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini. Menurutnya, buku memiliki kekuatan untuk membuka wawasan dan memperluas cakrawala berpikir generasi muda.

“Melalui buku, kita bisa berpetualang, berimajinasi, dan membangun mimpi. Membaca bukan hanya soal belajar, tetapi juga tentang memahami dunia dan membentuk masa depan,” ujarnya di hadapan para peserta.

Ia juga menyinggung peringatan Hari Buku Sedunia yang diprakarsai UNESCO sebagai pengingat global akan pentingnya budaya membaca dan distribusi pengetahuan.

Sementara itu, perwakilan Penerbit Erlangga, Dwi Wahyu, menegaskan bahwa BiMo hadir sebagai bentuk nyata dukungan terhadap gerakan literasi nasional. Ia menyebut, keberadaan perpustakaan keliling ini menjadi cara efektif menjangkau pelajar secara langsung, sekaligus menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan.

“BIMO bukan sekadar membawa buku, tetapi membawa semangat baru dalam membangun budaya literasi. Kami berharap anak-anak semakin gemar membaca dan memiliki wawasan yang lebih luas,” katanya.

Acara penutupan berlangsung meriah dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan para siswa dan tamu undangan. Selain pemutaran video perjalanan BiMo selama tur, pengunjung juga diajak berpartisipasi dalam berbagai aktivitas literasi yang diselenggarakan IFI. Salah satu yang menarik perhatian adalah “Wall of Impact”, sebuah ruang interaktif untuk menampung kesan, pesan, serta pengalaman peserta selama mengikuti program.

Tak hanya itu, suasana semakin semarak dengan penampilan seni dari para pelajar yang menjadi bagian dari perjalanan BiMo. Penampilan ini sekaligus menjadi simbol keberhasilan program dalam menggabungkan literasi dengan ekspresi kreatif.

Meski perjalanan BiMo telah berakhir, kolaborasi budaya antara Indonesia dan Prancis di bidang literasi dipastikan terus berlanjut. Pada tahun 2026, Indonesia dijadwalkan berpartisipasi dalam penghargaan sastra berbahasa Prancis Choix Goncourt, menjadikannya negara ke-51 yang terlibat dalam ajang internasional tersebut.

Partisipasi ini diharapkan semakin memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap sastra dunia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan literasi global.

Penutupan BiMo menjadi bukti bahwa upaya menumbuhkan budaya membaca membutuhkan kolaborasi lintas negara, institusi, dan masyarakat. Lebih dari sekadar program, BiMo meninggalkan jejak inspirasi bahwa buku tetap menjadi jendela dunia—membuka peluang, memperkaya perspektif, dan membentuk masa depan generasi muda.
 

Editor : Eka Ardimiyati



Berita Terkait