Mili.id – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Barat (Karantina Kalbar) memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menekan peredaran ilegal satwa liar sekaligus mencegah potensi penyebaran penyakit zoonosis di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
Kepala Karantina Kalbar, Ferdi, menegaskan kawasan perbatasan merupakan titik rawan kejahatan transnasional yang kerap dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal, termasuk penyelundupan satwa dilindungi.
“Perbatasan menjadi titik rawan kejahatan transnasional. Karena itu, kolaborasi lintas instansi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memperkuat pengawasan dan menutup celah perdagangan ilegal,” ujarnya di Pontianak, Minggu.
Sebagai langkah konkret, Karantina Kalbar menggelar workshop multipihak bertajuk Mendukung Pencegahan Peredaran Perdagangan Ilegal Satwa Liar dan Pencegahan Potensi Zoonosis di Perbatasan Indonesia Malaysia di Wisma Indonesia Aruk, Kabupaten Sambas, beberapa waktu lalu.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur CIQS (Customs, Immigration, Quarantine, Security), TNI/Polri, pemerintah daerah, hingga organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang lingkungan.
Menurut Ferdi, pendekatan terpadu melalui sistem “satu pintu” yang melibatkan Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, dan aparat keamanan menjadi garda terdepan dalam memastikan setiap lalu lintas barang dan makhluk hidup di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk sesuai dengan ketentuan.
Selain penguatan pengawasan, kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Peredaran satwa liar ilegal yang tidak melalui prosedur karantina dinilai berisiko membawa agen penyakit berbahaya, seperti virus dan bakteri baru.
“Tanpa pengawasan dan pemeriksaan yang ketat, risiko masuknya penyakit menular ke wilayah Indonesia menjadi sangat nyata,” kata Ferdi.
Dalam workshop itu, peserta juga dibekali pemahaman terkait prosedur karantina, deteksi dini ancaman penyakit, serta dampak ekologis dari perdagangan satwa liar ilegal.
Karantina Kalbar berharap penguatan edukasi dan sinergi antarinstansi dapat meningkatkan peran aktif seluruh pihak di wilayah perbatasan, sehingga upaya pencegahan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Melalui penguatan jejaring komunikasi antar-instansi, kami berkomitmen menjaga wilayah perbatasan RI–Malaysia tetap aman, sehat, serta terbebas dari praktik penyelundupan satwa liar dan penyebaran penyakit menular,” ujar Ferdi.
Editor : Redaksi
