Surabaya, mili.id - Mulai dari reshuffle kabinet menteri hingga pembatalan tunjangan rumah bagi anggota dewan, Pemerintah Indonesia kini sedang berusaha mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan segala upaya.
Hal ini menyikapi kondisi Indonesia selama beberapa minggu ke belakang. Bermula dari tunjangan gaji anggota dewan yang dinaikkan secara drastis, dan respons bahagia yang mereka tunjukkan. Padahal di luar pintu gedung dewan, kondisi masyarakat pun sedang tidak baik-baik saja.
Baca juga: Dukung Mobilitas Mahasiswa, SPS Corporate Sumbang Bus ke PCU Surabaya
Pada akhirnya banyak yang mempertanyakan, apakah kenaikan tunjangan itu memberi dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat? Gelombang tuntutan pun muncul menyusul aspirasi-aspirasi yang disuarakan dalam aksi sepanjang 25 Agustus - 2 September 2025.

Rangkuman tuntutan dari berbagai elemen masyarakat itu dikenal sebagai “17+8 Tuntutan Rakyat”. Menariknya, kampanye ini digerakkan secara aktif melalui media sosial dengan visual dan grafis yang unik, yakni penggunaan warna hijau dan pink (merah muda).
Meski belum semua tuntutan terselesaikan, gerakan ini dinilai cukup efektif. Apakah benar penggunaan warna menjadi pengaruh keberhasilan dari gerakan tersebut?
Asthararianty, S.Sn., M.Ds., dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Petra Christian University (PCU) Surabaya, menguak kekuatan di balik makna warna dan bagaimana ia bekerja sebagai alat komunikasi yang ampuh.
"Warna bukan sekadar elemen estetika, tapi bahasa universal yang mampu menyampaikan pesan, membangkitkan emosi, dan menyatukan berbagai kelompok masyarakat,” jelas Asthararianty.
Baca juga: Bangun Indonesia Lebih Kokoh: Petra Civil Expo 2025 Dorong Inovasi Infrastruktur
Astha, panggilan akrabnya, sempat mengampu Mata Kuliah Introduction to Design yang mempelajari tentang prinsip dan elemen desain. Astha menyebut, masing-masing warna punya makna psikologis dan kulturalnya sendiri.
“Warna pink secara psikologis melambangkan kelembutan dan empati, sementara secara kultural dapat merepresentasikan solidaritas. Di sisi lain, warna hijau secara psikologis mengasosiasikan kesegaran dan ketenangan, dan secara kultural menjadi simbol kehidupan. Makna-makna ini dapat berubah seiring waktu dan latar belakang budaya yang berbeda,” imbuhnya.
Dalam dunia DKV sendiri, warna adalah alat komunikasi non-verbal yang efektif. Penggunaan warna yang konsisten dan berulang dapat memperkuat daya ingat audiens terhadap pesan atau fenomena yang diwakilinya.
Astha menegaskan, terkait penggunaannya dalam gerakan sosial, pemilihan warna tidak boleh asal-asalan. "Harus mengetahui tujuan dan juga dasar teorinya," tegasnya.
Baca juga: AI Ghibli sebagai Asisten Kreatif Animator, Bukan Pengganti Segalanya
Astha yang memiliki kompetensi di dunia desain grafis berpendapat, penggunaan simbol visual, terutama warna, jauh lebih efektif dalam menjangkau audiens yang lebih luas.
"Visual memiliki kekuatan yang tidak terbatas, yang mampu membangun sebuah jembatan emosi kepada persepsi dan juga sebuah identitas," pungkas Astha yang sudah menjadi dosen DKV sejak tahun 2009 itu.
Simbol visual, khususnya warna, bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan strategi utama dalam menyampaikan pesan secara luas dan mendalam.
"Karena melalui visual dan pemilihan warna yang tepat, koneksi emosional dan identitas dapat terbangun, membuat pesan tidak hanya diterima tetapi juga dirasakan. Jadi dalam “17+8 Tuntutan Rakyat” ini, kita diajak untuk kembali melihat, apakah warna hijau dan pink benar-benar efektif untuk menggerakkan rakyat?
Editor : Fahrizal Tito
