Miliano Jonathans
Jakarta, mili.id - PSSI patut mengucapkan terima kasih kepada Miliano Jonathans. Pemain muda berbakat yang kini memperkuat FC Utrecht di Eredivisie, Liga Belanda, itu mengambil keputusan besar: menolak panggilan tim nasional Belanda demi menanti proses naturalisasinya bersama Indonesia.
Keputusan tersebut tentu bukan hal kecil. Pasalnya, Jonathans sebenarnya sudah masuk radar Jong Oranje, tim muda Belanda yang kerap menjadi batu loncatan menuju skuad senior. Bahkan, Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) disebut menaruh perhatian khusus padanya. Namun, Jonathans memilih menutup pintu itu.“Indonesia adalah rumah baruku,” ujarnya singkat dalam wawancara yang dikutip media Belanda, VoetbalPrimeur.
Baca juga: Erick Thohir dan John Herdman Dijadwalkan Temui Presiden Prabowo di Hambalang
Kalimat sederhana itu bagai sebuah deklarasi. Ia memilih identitas dan masa depan sepak bolanya di Asia, bukan di negeri tempat ia lahir dan besar.Nama Miliano Jonathans mungkin baru populer dalam satu-dua tahun terakhir, tetapi jejaknya di sepak bola Belanda cukup panjang. Pemain sayap berusia 21 tahun itu ditempa di akademi muda Vitesse, salah satu klub yang banyak melahirkan talenta Eredivisie.
Di Vitesse, ia berkembang menjadi pemain yang dikenal eksplosif di sisi sayap dengan kombinasi kecepatan, kelincahan, dan kemampuan mencetak gol. Performanya membuat FC Utrecht kepincut. Pada Januari lalu, ia resmi bergabung dan langsung mencatatkan 13 penampilan resmi bersama klub berjuluk Domstedelingen itu.
Yang menarik, Jonathans bukan sekadar pesepak bola muda biasa. Ia adalah keturunan dari salah satu pendiri “Republik Depok”, sebuah komunitas bersejarah keturunan Belanda yang bermukim di Depok sejak abad ke-18. Dengan kata lain, darah Indonesia sudah lama mengalir dalam dirinya, meski ia tumbuh besar di Belanda.
Menolak Belanda, Menanti Garuda
Menurut laporan VoetbalPrimeur, Jonathans sebenarnya masuk daftar sementara timnas U-21 Belanda. Namun undangan itu ia abaikan. Alasannya jelas: proses naturalisasi ke Indonesia sedang berjalan.
Baca juga: Adrian Wibowo Resmi Hijrah ke Eropa, Winger Timnas Indonesia Gabung FC Wacker Innsbruck
Sikapnya itu tentu menandai langkah berani. Tidak sedikit pemain berdarah Indonesia yang memilih tetap bersama negara kelahirannya karena lebih menjanjikan dari segi karier internasional. Namun Jonathans memilih jalur berbeda.
Langkah ini sekaligus membuka jalan bagi PSSI yang sedang giat memperkuat Timnas Garuda dengan pemain diaspora. Nama Jonathans pun kini masuk daftar prioritas, bersanding dengan beberapa bintang muda lain yang sudah lebih dulu mengenakan seragam merah putih.
Harapan untuk Masa Depan Garuda
Baca juga: Garuda Muda Bangkit! Tundukkan Kamboja 1-0, Indonesia Rebut Peringkat Ketiga Piala AFF U-19 2026
Bagi publik sepak bola Indonesia, Jonathans adalah simbol harapan baru. Usianya masih muda, kariernya tengah menanjak di Eredivisie, dan yang terpenting: ia sudah menunjukkan komitmen.
Keputusan menolak Belanda demi Indonesia tentu menjadi kabar menggembirakan. Jika proses naturalisasi berjalan mulus, Jonathans bisa segera menjadi bagian penting dari generasi baru Timnas, yang kini tengah dibangun dengan perpaduan pemain lokal dan diaspora.
“Indonesia adalah rumah baruku.” Ucapan itu mungkin sederhana, tetapi bagi PSSI dan jutaan pencinta Garuda, kalimat tersebut terdengar seperti janji manis akan masa depan yang lebih cerah.
Editor : Erwin Muhammad
