Yahdi Jamhur, sutradara film Seribu Bayang Purnama (Bejo/mili.id)
Surabaya, mili.id - Wajah petani di Indonesia tersaji dalam film berjudul Seribu Bayang Purnama.
Film yang disutradarai Yahdi Jamhur ini, sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop Tanah Air.
Seperti halnya pada Rabu (9/7/2025) kemarin, puluhan petani menyerbu Bioskop XXI Tunjungan Plaza Surabaya untuk menonton Film Seribu Bayang Purnama.
Persoalan pertanian yang kompleks menjadi latar belakang dibuatnya film ini, agar bisa menjadi edukasi dan alternatif solusi.
"Persoalan sektor pertanian yang itu terjadi terlalu lama. Petani termarjinalisasi karena kapitalisasi pertanian," ungkap Yahdi Jamhur di Surabaya.
Yahdi menyebut, petani rata-rata berusia di atas 40 tahun. Sementara petani di bawah 40 tahun, sangat sedikit. Hal ini karena regenerasi petani tidak terjadi.
"Diprediksi, 2035 bisa habis petani Indonesia. Gak ada yang mau jadi petani," ujarnya.
Judul Seribu bayang Purnama dipilih sebagai simbol tokoh Putro Hari Purnomo yang melahirkan seribu petani baru untuk mengolah pertaniannya dengan cara alami.
"Simbol karakter petani kita ke depan. Bayang-bayang si Putro ini yang menuntun petani sebagai pilihan, bukan karena terpaksa," lanjutnya.
Yahdi berharap, film Seribu Bayang Purnama hasil karyanya ini juga dapat menginspirasi generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian, seperti Putro.
"Putro adalah seorang pemuda yang bertekad kembali dari kota ke kampung halamannya, untuk menggerakkan para petani agar ikut menerapkan metode pertanian alami," paparnya.
Selain itu, film ini juga lahir dari pengalaman yang cukup panjang sang sutradara sebagai jurnalis TV dan pembuat film-film dokumenter.
Desa-desa di Yogyakarta menjadi lokasi pembuatan film ini. Sehingga dipenuhi gambar-gambar sinematik yang indah dan eksotis, yang dapat membuat penonton seakan berada di alam pedesaan berserta akan-akar budayanya.
Film Seribu Bayang Purnama telah tayang serentak di jaringan bioskop nasional pada 3 Juli 2025. Dan Surabaya, menjadi kota terakhir launching film tersebut.
Seribu Bayang Purnama diklaim sebagai film pertama dalam sejarah perfilman Indonesia, yang mengangkat tema pertanian.
Film layar lebar ini mengangkat problematika para petani di pedesaan masa kini, yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat perkotaan.
Di dalam film ini diceritakan bagaimana sulitnya para petani memperoleh modal untuk mengolah lahan mereka, antara lain karena mahalnya harga pupuk dan pestisida kimia yang sudah biasa digunakan para petani.
Akibatnya, para petani terperosok ke dalam jeratan para rentenir yang menerapkan bunga pinjaman selangit, sehingga petani hidup dalam lingkaran kemiskinan yang tak berkesudahan.
Kegelisahan dan nasib petani itulah, yang kemudian menginspirasi Yahdi Jamhur, membuat film Seribu Bayang Purnama.
Film produksi Baraka Film ini didukung alur cerita dan penokohan yang kuat, melalui skenario yang ditulis Swastika Nohara.
Swastika Nohara sendiri pernah meraih dua Piala Maya untuk kategori Penulis Skenario Terpilih, serta nominasi sebagai penulis skenario terbaik pada ajang bergengsi FFI 2014.
Editor : Narendra Bakrie
