Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa
Mili.id - Hari Keluarga Nasional 29 Juni kemarin, diharapkan jadi motor pendorong percepatan pencegahan stunting di Indonesia.
Begitu pesan Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur. Ia menegaskan, keluarga merupakan benteng utama untuk mencegah stunting pada setiap fase kehidupan.
Baca juga: Pemprov Jatim Pastikan Pengambilan PIN SPMB Tetap Bisa Tanpa SKL, Antrean Terpantau Lancar
Baik mulai janin, bayi, balita, remaja, menikah, hamil, dan seterusnya. "Harganas harus dimanfaatkan untuk mendorong optimalisasi fungsi keluarga di Indonesia. Khususnya dalam upaya penurunan stunting," ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi.
Ia memaparkan, pemerintah berkomitmen untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, dengan target prevalensi stunting turun dari 30,8 persen tahun 2018 dan 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 14 persen di tahun 2024.
Gubernur Khofifah juga menegaskan, Harganas merupakan perwujudan pentingnya arti keluarga terhadap upaya memperkuat ketahanan nasional.
Dalam artian, kelurga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga menjadi pondasi penting awal pembangunan karakter bangsa.
Baca juga: Pancasila Jadi Fondasi Perdamaian Dunia, Khofifah: Jangkar Moral Hadapi Tantangan Global
"Ambil contoh soal narkoba yang semakin merajalela, keluarga punya andil penting dalam menangkal penyebarannya. Dimulai dengan memberikan pendidikan agama sejak usia dini, agar ketika tumbuh dewasa bisa memikirkan setiap tindakan yang akan dilakukan dengan benar dan tidak berjalan di jalan yang sesat," tuturnya.
Di samping itu, Khofifah mewanti-wanti, tiap keluarga harus memahami pentingnya menjaga tumbuh kembang bayi balita khususnya, utamanya pada masa emas. Yaitu 1000 pertama kehidupan.
"Peran keluarga pun sangat penting di fase ini. Mulai dari asupan nutrisi yang baik untuk ibu hamil, selanjutnya ASI eksklusif, MPASI, hingga pola pengasuhan yang baik," imbuhnya.
Menurutnya, karena segala sesuatu dimulai dari komponen terkecil dalam negara yaitu keluarga, maka sejahteranya sebuah negara juga diukur dari kesejahteraan keluarga-keluarga di negara tersebut.
"Jadi negara itu sehat, sejahtera dan bahagia jika seluruh keluarga di dalamnya sehat, sejahtera, dan bahagia juga," pungkasnya.
Editor : Redaksi
