Mahasiswa ITS Inovasikan Pupuk Berbahan Dasar Kulit Pisang dan Ampas Tebu

Mahasiswa ITS Inovasikan Pupuk Berbahan Dasar Kulit Pisang dan Ampas Tebu © mili.id

Tim Maxteam ITS saat melakukan pameran sebelum pengumuman juara di ajang Chemical Product Design Competition (CPDC). ITS for mili.id

Surabaya, mili.id - Lima mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menginovasikan pupuk lepas lambat ramah lingkungan berbahan dasar limbah kulit pisang dan ampas tebu.

Pupuk yang dinamai Bloomie ini, dimodifikasi menggunakan carbon nanodots untuk meningkatkan efisiensi fotosintesis tanaman. Inovasi ini juga iklam telah berhasil meningkatkan serapan nutrisi tanaman
hingga 70 persen dan efisiensi pupuk sebesar 42,8 persen, dibandingkan pupuk konvensional.

Baca juga: Four Points by Sheraton Surabaya Gelar Trading Card Show Pertama di Surabaya

“Dengan menggunakan prinsip kimia hijau, pupuk ini mendorong pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah organik secara produktif,” ujar Ketua Tim Maxteam ITS Mochamad Valen Bagus Jutawan. Selasa
(29/4/2025).

Sebagai bentuk nyata komitmen terhadap pengurangan emisi karbon dan penerapan prinsip berkelanjutan, proses produksi pupuk ini juga berhasil memenuhi 9 dari 12 prinsip kimia hijau.

“Pencapaian ini memperkuat dedikasi tim dalam menghadirkan inovasi ramah lingkungan dan berkontribusi terhadap masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Dari sisi performa, jelas Valen. Pupuk ini mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air hingga 50,67 persen, meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi tanaman, serta mempercepat pertumbuhan
akar dan produktivitas tanaman dengan peningkatan hasil panen sebesar 14 persen.

“Hasilnya, pupuk ini terbukti dapat menghemat biaya pertanian hingga Rp 1,38 juta per hektar per bulan,” beber mahasiswa asal Lumajang ini.

Baca juga: Suroboyo 10K 2026 Dibanjiri Ribuan Pelari, Hotel dan Kuliner Surabaya Ikut Terdongkrak

Lebih lanjut, Valen menjelaskan bahwa Bloomie lahir dari keresahannya terhadap pencemaran lingkungan akibat residu pupuk kimia dan limbah organik yang belum termanfaatkan dengan baik.

“Penggunaan pupuk konvensional berlebihan seringkali menyebabkan kerusakan tanah dan pencemaran air, sementara limbah pertanian terus menumpuk tanpa solusi yang efektif,” ujar pemuda kelahiran 2004 itu.

Dibimbing oleh Dr Bramantyo Airlangga ST, Maxteam yang juga beranggotakan Arif Pawoko, Regina Julia Ardi, Shafa Annisa Ramadhani, dan George Gabriel Wongady Sosang ini juga menggagas sebuah program
Corporate Social Responsibility (CSR).

“Kami berencana untuk melakukan pembibitan dan budidaya tanaman hortikultura menggunakan produk pupuk lepas lambat kepada masyarakat,” jelas Valen.

Baca juga: Remaja Surabaya Tewas Diduga Dikeroyok Usai Perselisihan Sandal Crocs Rp1,5 Juta

Valen beserta timnya optimis melalui kaya inovasi pupuk bloomie juga dapat berkontribusi langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 13 tentang aksi iklim dengan mengurangi
emisi gas rumah kaca akibat residu limbah pupuk kimia.

Diketahui inovasi tim mahasiswa bernama Maxteam ini sukses meraih juara 3 pada ajang Chemical Product Design Competition (CPDC) dalam acara Process and Green Engineering Days (PGD) 2025 di UniversitasIndonesia (UI), Sabtu (26/4) lalu.

 

Editor : Aris S



Berita Terkait