Misoa dan Ronde, Dua Sajian Khas Tahun Baru Imlek Penuh Makna

Misoa dan Ronde, Dua Sajian Khas Tahun Baru Imlek Penuh Makna © mili.id

Suguhan misoa dan ronde saat perayaan Tahun Baru Imlek di Jember. (Atta Hatta/Mili.id)

Jember, mili.id - Warga Tionghoa di Jember, ikut merayakan Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili dengan suka cita. Dalam penanggalan China, tahun ini memasuki tahun Ular Kayu.

Bertempat di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Klenteng Pay Lien San yang berada di Desa Jubung/Glagahwero, Kecamatan Sukorambi, Jember.

Baca juga: BNI Sudah Laporkan Kasus KUR Jember 441 M Sejak 2024

Warga Tionghoa juga menyiapkan berbagai suguhan makanan. Di antaranya adalah misoa dan ronde.

Terkait suguhan wajib saat perayaan Tahun Baru Cina itu. Ahli Spiritual dan Wakil Ketua Klenteng TITD Pay Lien San, Kanjeng Hendry mengatakan, dua suguhan makanan ini memiliki makna dan arti tersendiri. Berkaitan dengan kehidupan bagi kaum Tionghoa.

"Untuk beberapa hidangan yang disajikan setiap tahun, ada misoa itu maknanya supaya panjang umur. Kalau untuk ronde juga pun sama, manis. Karena Imlek itu harus makan yang manis-manis, supsya kedepannya selalu manis-manis," kata Hendry saat dikonfirmasi disela perayaan Imlek, Rabu (29/1/2025).

Bertepatan dengan tahun Ular Kayu, lanjutnya, untuk dua makanan khas itu. Memiliki makna dan arti tersendiri.

"Supaya nanti ke depannya bisa diberkati, harmonis. Makanya kan kenapa hidangannya manis-manis, seperti permen, kue, buah juga," ucapnya.

Terkait bahan untuk membuat suguhan dua makanan tersebut. Kata pria yang juga memiliki nama Tionghoa Lie Kwok Bin itu, sama-sama menggunakan bahan dari tepung beras.

Baca juga: Kejati Jatim Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi KUR BNI Jember, Kerugian Negara Capai Rp41,4 Miliar

"Itupun pengolahannya harus yang bisa mengolah. Soalnya kalau tidak bisa mengolahnya, nantinya akan benyek (lembek, red). Kalau untuk ronde dari tepung beras juga, tapi dalamnya kacang, dan ada warnanya yang berbeda-beda," ulasnya.

"Karena ada maknanya sendiri, yang merah itu artinya keberuntungan, untuk putih itu kesucian. Untuk penyajiannya dengan kuah jahe, karena di musim semi inikan supaya menghangatkan tubuh kita," sambungnya.

Lebih jauh soal suguhan makanan Misoa dan Ronde, kata Hendry, dulunya merupakan sajian khusus bagi para dewa.

"Jadi, sesudah itu diberikan kepada umat yang tertua. Biasanya juga ada telur ayam dan kacang tanah. Tentunya setiap tahun harus ada hidangan khusus memang. Seperti Misoa dan ronde," ujarnya.

Baca juga: AstonRun 2026 Perkuat Jember Sebagai Destinasi Sport Tourism

Sementara itu, menambahkan tentang makna perayaan Tahun Baru Cina kali ini. Ketua Klenteng TITD Pay Lien San, Hery Novem Stadiono mengatakan jika di tahun ini. Dengan makna tahun Ular Kayu, diharapkan masyarakat harus pandai berinovasi.

"Pesan saya untuk Imlek tahun ini, pandai-pandailah berinovasi dalam bidang apapun, bidang usaha, atau bidang media ini. Nah, itu pandai-pandai berinovasi karena tahun Ular Kayu ini sebetulnya kayunya itu unsurnya bagus, yaitu kokoh, artinya mempunyai pedoman yang tanpa roboh, gitu ya," jelasnya.

Namun karena untuk shionya adalah ular, kata pria yang memiliki nama Tionghoa Jap Swie Liong itu, memiliki sifat yang menunggu.

"Artinya ular itu simbol binatang yang menunggu, sifatnya menunggu mangsa. kalau kita ikut shionya, kita enggak mau inovasi, ya mungkin tertinggal. Shio ular itu hanya menunggu momen-momen menguntungkan saja. Kalau menguntungkan itu pas datang. Tapi kalau nggak datang kan menunggu terus. Nah makanya pesan saya supaya pandai-pandai berinovasi untuk tahun ular ini," ulasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait