28 Desember 10 Tahun Lalu Pesawat AirAsia QZ8501 Jatuh di Selat Karimata

28 Desember 10 Tahun Lalu Pesawat AirAsia QZ8501 Jatuh di Selat Karimata © mili.id

Sebagian tubuh Pesawat AirAsia QZ8501 berhasil dievakuasi. (istimewa)

Surabaya, mili.id - Tepat pada 28 Desember 2014 atau 10 tahun yang lalu, Pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 yang membawa 155 penumpang dengan 7 awak pesawat, jatuh di Selat Karimata, Laut Jawa.

Peristiwa ini disebut sebagai tragedi penerbangan terburuk ketiga dalam sejarah Indonesia, setelah kecelakaan Garuda di Medan pada tahun 1997 yang menewaskan 234 orang dan kecelakaan Lion Air di Laut Karawang pada tahun 2018 yang menewaskan 189 orang.

Baca juga: Ambil Bola yang Masuk Jurang, Remaja di Depok Terbaring Empat Jam Menanti Pertolongan

Kronologi Pesawat AirAsia QZ8501 Jatuh

Pesawat itu lepas landas dari Banda Udara Internasional Juanda, Surabaya, Indonesia, pukul 05.35 WIB dan hendak menuju Bandar Udara Internasional Changi Singapura, yang dijadwalkan tiba pada pukul 08.30.

Menurut pernyataan AirAsia, kehilangan kontak terjadi pada pukul 07.24 WIB. Namun, beberapa laporan dari otoritas penerbangan Indonesia menyatakan bahwa kehilangan kontak terjadi lebih awal, yaitu 06.17 WIB.

Pesawat itu berada di bawah kontrol lalu lintas udara Indonesia ketika diminta untuk menyimpang dari jalur penerbangan aslinya karena kondisi cuaca yang saat itu sedang buruk.

Pilot Kapten Iriyanto meminta izin naik ke ketinggian 38.000 kaki atau 11.600 meter untuk menghindari awan tebal kumulonimbus, tetapi ketinggian final yang ditunjukkan transponder dan disimpan oleh Flightradar24 adalah 32.000 kaki atau 9.750 meter.

Pesawat kehilangan kontak dengan pengatur lalu lintas udara pada pukul 07:24 waktu setempat, saat terbang di atas Laut Jawa antara Kalimantan dan Jawa, pada ketinggian jelajah dan kecepatan normal. Pesawat ini sempat melintasi sebuah badai beberapa menit sebelum hilang.

Pencarian Tubuh Pesawat AirAsia QZ8501

Setelah insiden itu, laporan awal yang belum dikonfirmasikan menunjukkan bahwa penerbangan AirAsia 8501 jatuh di Pulau Belitung, Indonesia. Operasi pencarian dan penyelamatan telah berlangsung di bawah arahan Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia.

Tim penyelamat gabungan dari Basarnas, TNI/Polri serta perbantuan dari Singapura, Malaysia, Australia dan India menerjunkan pasukan, kapal hingga pesawatnya masing-masing, untuk melakukan pencarian.

Namun, pencarian saat itu tak membuahkan petunjuk dan hasil apapun. Sehingga, pencarian dihentikan pada pukul 19.45 waktu setempat karena kondisi sudah gelap dan cuaca buruk, yang akan dilanjutkan pada besok hari.

Pada tanggal 29 Desember 2014, Kepala Badan SAR Nasional yang saat itu dijabat Bambang Soelistyo mengatakan bahwa pemerintah Indonesia yakin Pesawat tersebut jatuh di dasar laut, berdasarkan data radar dari kontak terakhir pesawat.

Pada 30 Desember 2014, Basarnas mengkonfirmasi telah menemukan serpihan pesawat AirAsia QZ8501 dan jenazah penumpang.

Baca juga: Sapi Kurban 350 Kilogram Terperosok ke Gorong-gorong, Damkar Jaktim Lakukan Evakuasi Dramatis

Salah satu jenazah yang ditemukan dalam posisi telungkup mengenakan baju putih celana hitam, sementara 3-4 jenazah berjejeran dan terlihat sedang bergandengan.

Temuan ini berpusat di Laut Jawa, dekat dengan Selat Karimata. Serpihan-serpihan itu antara lain ditemukan di titik koordinat 03°46'50" LS, 110°29'27" BT dan 08°50'43" LS, 110°29'21,8" BT.

Salah satu serpihan yang ditemukan adalah lempengan logam dan pintu darurat keluar (emegency exit door), serpihan tersebut selanjutnya dievakuasi ke KRI Bung Tomo.

Pada 7 Januari 2015, atau 11 hari setelah kecelakaan, bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 ditemukan oleh tim penyelam dari Kapal MGS GeoSurvey. Ekor pesawat tersebut berada pada kedalaman kurang lebih 35 meter di titik koordinat 03.36.31 lintang selatan dan 109.41.66 bujur timur.

Selanjutnya pada 10 Januari 2015, Ekor pesawat tersebut dapat diangkat, tetapi black box lepas dari tempatnya. Pencarian dilanjutkan untuk menemukan Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).

Berdasarkan sinyal ping yang diterima KN Jadayat, posisi black box diketahui di koordinat 03˚ 37' 21" S dan 109˚ 42' 42". Penyelaman pertama oleh TNI-AL, Serda Rajab Suwarno yang membawa pinger detector bersama Kapten Saiful, Pelda Bambang, dan KLK navigasi Edi Susanto dilakukan pada 12 Januari 2015.

Tepat pada pukul 07.12 WIB, mereka berhasil mengangkat FDR ke permukaan dari kedalaman sekitar 35 meter. Esoknya pada 13 Januari 2015, dilakukan penyelaman kedua, Serda Rajab kembali menyelam bersama Letnan Aang dan Sertu Widodo.

Baca juga: Ular Besar Masuk Rumah Warga Magersari, Petugas BPBD Kota Mojokerto Evakuasi dari Bawah Lemari

Akhirnya CVR ditemukan di antara tumpukan pasir dan lumpur sekitar 20 meter dari penemuan FDR. Pada pukul 07.13 WIB, CVR berhasil diangkat.

Pada 14 Januari 2015, badan pesawat berhasil ditemukan oleh ROV (Robotic Operated Vihacle) dari RSS MV SWIFT Rescue, kapal Singapura yang ikut dalam pencarian.

Badan pesawat tersebut ditemukan sekitar 3000 meter dari lokasi ekor. Setelah mendapatkan lokasinya, KRI Banda Aceh segera bergerak menuju perairan Karimata.

Pada 27 Februari, tim penyelamat berhasil menemukan potongan besar badan pesawat berserta sayap dari A320. Tim penyelamat mencoba mengangkat potongan badan pesawat dari dasar laut menggunakan balon. Namun, usaha pertama gagal karena sebagian balon mengempis.

Pada Maret 2015, seluruh potongan badan pesawat berhasil diangkat dari dasar laut. Di antara puing-puing tersebut, tim penyelamat menemukan potongan tulang jenazah para korban serta ponsel dan barang-barang pribadi milik mereka.

Jumlah Korban Tewas

AirAsia merilis daftar 162 penumpang dan kru pesawat, di antaranya 144 dewasa, 17 anak-anak, dan satu balita. 41 penumpang dikabarkan merupakan jemaat gereja, dan lainnya merupakan rombongan keluarga dengan anak-anak berlibur ke Singapura untuk merayakan libur tahun baru.

Editor : Aris S



Berita Terkait