8 Desember 59 Tahun Lalu, Munir Lahir Hingga Jadi Aktivis HAM di Indonesia

8 Desember 59 Tahun Lalu, Munir Lahir Hingga Jadi Aktivis HAM di Indonesia © mili.id

Munir Said Thalib/istimewa

mili.id - Pada 8 Desember 1965 atau 59 tahun lalu, Munir Said Thalib lahir, hingga menjadi aktivis HAM di Indonesia yang disegani.

Munir lahir di Kota Batu, Jawa Timur, dari pasangan Said Thalib dan Jamilah Umar Thalib.

Baca juga: Ketum PWI Pusat Akhmad Munir Apresiasi PWI Jaya Berbagi untuk Yatim dan Warakawuri

Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Semasa kuliah, ia mengambil studi ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang.

Di bangku kuliah, ia aktif di Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia, Forum Studi Mahasiswa untuk Pengembangan Berpikir, serta Himpunan Mahasiswa Islam; selain menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum.

Munir lalu lulus pada Tahun 1989.

Karir Aktivis Munir

Selepas dari bangku kuliah, Munir memulai karirnya sebagai relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cabang Surabaya selama dua tahun, sebelum pindah kembali ke Malang sebagai kepala pos LBH Surabaya, dan menjadi Wakil Ketua bidang Operasional YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia).

Munir terlibat dalam menangani dan mengadvokasi beberapa kasus pelanggaran HAM di Indonesia pada masa orde baru.

Ia tercatat pernah menjadi penasihat hukum untuk keluarga tiga orang petani yang dibunuh TNI di proyek Waduk Nipah di Banyuates, Sampang dan keluarga korban penembakan di Lantek Barat, Galis, Bangkalan.

Pada Tahun 1998, Munir ikut serta mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hak asasi manusia, terutama penghilangan paksa dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Sebagai Koordinator Badan Pekerja KontraS, Munir ikut menangani kasus penghilangan paksa dan penculikan para aktivis HAM Tahun 1997-1998 dan mahasiswa korban penembakan pada Tragedi Semanggi (1998).

Baca juga: Akhmad Munir di Banda Aceh: Wartawan Harus Junjung Kebenaran dan Jauhi Fitnah

Ia juga berperan aktif mengawal dan mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Aceh pada masa Operasi Jaring Merah (1990-1998) dan Operasi Terpadu (2003-2004).

Selepas tidak lagi menjadi pengurus di KontraS, Munir menjadi direktur Imparsial, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengawasi penegakan dan penghormatan atas HAM di Indonesia.

Munir Tewas Diracun

Tiga jam setelah pesawat GA-974 transit di Singapura dari Jakarta dengan tujuan Amsterdam, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir, yang duduk di kursi nomor 40G, menderita sakit.

Munir bolak-balik ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir kemudian dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, yang juga berusaha menolongnya saat itu.

Penerbangan menuju Amsterdam memakan waktu 12 jam. Namun, dua jam sebelum mendarat, pada 7 September 2004, pukul 08.10 waktu setempat, di Bandara Schiphol Amsterdam, Munir telah meninggal dunia.

Baca juga: HPN Bukan Hanya Seremoni, Selalu Bawa Efek Domino Ekonomi di Daerah

Pada tanggal 12 November 2004, diumumkan bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenik setelah dilakukan autopsi.

Hal itu juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Hingga saat itu, belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Umum Kota Batu. Ia meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan Alif Allende dan Diva.

Sejak Tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait