Murka Nenek Siswi MI di Banyuwangi Diduga Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan

Murka Nenek Siswi MI di Banyuwangi Diduga Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan © mili.id

Sujiati, nenek siswi MI di Banyuwangi (Foto: Eko Purwanto/mili.id)

Banyuwangi - Nenek siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Banyuwangi murka mengetahui cucunya tewas mengenaskan, diduga jadi korban pemerkosaan dan pembunuhan.

Siswi MI itu berinisial CN (7). Sedangkan neneknya adalah Sujiati (55), keduanya warga Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru.

Baca juga: 49 Adegan Sadis! Detik-detik Badut Mainan Habisi Mertua di Mojokerto Direka Ulang

Sujiati menuntut ganti nyawa kepada pelaku yang tega membunuh cucunya.

Tak henti Sujiati menangis, menerima kenyataan pahit kehilangan cucu kesayangannya itu.

"Salah apa coba cucu saya kok sampai harus dipateni (dibunuh). Gak terima saya. Nyawa harus diganti nyawa," tutur Sujiati, Jumat (15/11/2024).

Murka Sujiati menjadi wajar, karena dia sudah tidak bisa melihat kembali senyum cucunya yang periang itu.

Cucu yang sering Sujiati sambangi sewaktu melepas penat dan mengisi waktu usia senjanya. Ia mengaku rindu. Rindu memeluk cucunya seperti sepekan lalu.

"Setelah dikabari dia gak ada (meninggal), hancur hati saya. Biadab itu pelaku. Salah apa coba cucu saya. Dia itu polos gak tau apa-apa. Biadab memang," tambahnya.

Jika memang pelaku berniat menguasai perhiasan cucunya, Sujiati mengaku heran mengapa tidak diambil saja, kemudian cucunya tetap dibiarkan hidup.

"Itu kalau mau ambil diambil (anting-anting dan kalung) saja gak usah pakai harus hilangin nyawa cucu saya. Kenapa gitu? Apa coba salah cucu saya," ungkapnya lagi.

Baca juga: Fakta Baru, Usai Bercumbu Badut Penjual Mainan di Mojokerto Ngamuk Lihat Chat WA Istri dab PIL

Sujiati kini hanya bisa memandangi potret cucunya melalui foto-foto terbungkus rapi di pigura dan cetakan yang melekat di dinding rumah anaknya.

Selebihnya, ia memandangi kenangan bersama sang cucu dari gawai anak dan cucunya yang lain.

Sementara waktu, Sujiati akan tinggal bersama Doni Nur Chusairi (35) dan Siti Aningsih (30), orangtua korban, yang masih terpukul dan belum bisa diajak berkomunikasi.

Di samping itu, masih ada hajat lain yang harus dituntaskan Sujiati. Membantu warga menyiapkan kudapan untuk santap tahlil. Berkirim doa untuk arwah sang cucu selama 7 hari.

Sementara Pemkab Banyuwangi bakal memberikan pendampingan langsung pada keluarga korban. Pendampingan terutama diperuntukkan pada ibunda korban yang saat ini hamil tua.

Baca juga: Tes Psikologi Ungkap Badut Pembunuh Mertua di Mojokerto Beraksi Sadar, Dipicu Emosi Keluarga

"Sejak kemarin, usai mendapat informasi kejadian memilukan ini, kami langsung terjunkan tim untuk melakukan pendampingan. Utamanya pendampingan psikologis pada ibunda korban, yang saat ini tengah hamil tua," ujar Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan KB, Henik Setyorini.

Henik menambahkan, Satgas PPA dan Tim pendamping P2TP2A, sejak 13 November telah melakukan pendampingan visum dan otopsi di RSUD Genteng. Terkait biaya visum dan autopsi yang telah dilakukan ditanggung oleh Pemkab Banyuwangi.

Tim juga telah mendatangi rumah duka untuk cek lokasi kejadian dan makam korban, serta melihat kondisi orang tua korban bersama Kepala Kemenag Banyuwangi yang merupakan anggota dari Tim SATGAS PPA Banyuwangi.

"Tim P2TP2A juga akan terus mengawal kasus ini secara hukum hingga putusan pengadilan," tandasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait