Basuki (58), salah satu warga yang nampak piawai bersama istrinya mengolah bilah bambu satu persatu menjadi sangkar ayam jadul. Foto : (nana/mili.id)
Mojokerto - Terkenal sebagai sentra kerajinan bambu, Desa Mojopilang, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto sejak puluhan tahun, bahkan warga setempat masih tetap eksis berkarya di zaman modern ini.
Seperti halnya Basuki (58), salah satu warga yang terlihat nampak piawai bersama istrinya mengolah bilah bambu satu persatu menjadi sangkar ayam jadul. Hanya dengan mengandalkan ketajaman parang.
Terlihat pula ratusan sangkar ayam siap untuk dijual terpajang di teras depan rumahnya.
Basuki mengaku telah memproduksi dan menjual sangkar ayam jadul ini sejak tahun 1982 silam, karena warisan turun temurun leluhurnya.
"Produksi sangkar ayam ini sudah lama ada sejak zaman orang-orang dahulu. Saya salah satu yang meneruskan atau mewarisi," kata Basuki, pada mili.id.
Setidaknya ada lebih dari 30 perajin bambu di sekitar tempat tinggalnya, dan saat ini beberapa perajin bahkan mengembangkan sejumlah produk dari bahan kayu, seperti membuat sangkar burung.
"Sekarang ini tidak semua hanya bikin sangkar ayam jadul, anak-anak muda juga turut berinovasi bikin sangkar burung dan sangkar ayam yang berbentuk boks itu. Tetapi sangkar yang jadul ya tetap dipertahankan," bebernya.
Baca juga: Razia Gabungan di Lapas Mojokerto, Tak Ditemukan Narkoba dan Ponsel di Kamar Hunian
Dengan dibantu anak dan istrinya, Basuki mampu menyulap potongan bambu menjadi dua jenis sangkar ayam jadul. Yakni, sangkar jengkian dan bunder.
Dalam sekali produksi, 10 batang bambu duri mampu membuat sekitar 35 sangkar. Proses produksi ada beberapa tahapan.
Meliputi pemotongan, penghalusan dan penjemuran bambu. Setelah kering, barulah sampai pada tahap terakhir perakitan.
"Proses paling lama itu penghalusan liningan bambu sama penjemuran, kalau untuk pakai bambu ori atau bambu duri ini karena teksturnya pas, nggak terlalu lembek dan keras," ujarnya.
Satu sangkar buatan Basuki, hanya dibanderol Rp 14.000 hingga Rp 30.000, itu tergantung jenis dan ukurannya. Selain dipajang di teras rumah, ia rutin mengirimkan ke juragannya yang ada di wilayah Surabaya dan Sidoarjo.
"Sekali kirim biasanya bawa 15 sampai 20 sangkar," pungkasnya.
Editor : Aris S
