5 Dongeng Sebelum Tidur yang Cocok Bagi Anak-anak

5 Dongeng Sebelum Tidur yang Cocok Bagi Anak-anak © mili.id

Ilustrasi (Image by Freepik)

mili.id - Tradisi membacakan dongeng sebelum tidur bagi anak-anak sudah semakin terkikis siiring pesatnya teknologi gadget.

Padahal, dongeng ini selain menghibur, juga memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak.

Baca juga: Keajaiban Dongeng Rakyat di Surabaya Vaganza 2025

Dalam dunia dongeng, anak-anak diajak menjelajahi berbagai imajinasi, bertemu dengan karakter-karakter menarik, dan belajar nilai-nilai kehidupan.

Menurut halodoc, dongeng yang baik adalah dongeng yang mampu menggugah rasa ingin tahu anak, merangsang imajinasinya, dan memberikan pesan moral yang positif.

Melalui dongeng, anak-anak dapat belajar tentang kebaikan, keberanian, persahabatan, dan nilai-nilai lainnya yang akan membentuk karakter mereka di masa depan.

5 Dongeng Sebelum Tidur yang Cocok Bagi Anak-anak:

1. Bawang Merah Bawang Putih

Dongeng ini bercerita tentang dua saudara tiri bernama Bawang Merah dan Bawang Putih.

Peristiwa yang ada dalam dongeng ini memberikan pelajaran bahwa keserakahan dan perilaku buruk adalah sebuah kesalahan besar.

Pesan moralnya adalah mengajarkan anak-anak agar jangan pernah bersikap buruk terhadap orang lain dan selalu menghindari sifat serakah.

2. Timun Mas

Dongeng ini bercerita tentang seorang wanita tua bernama Mbok Sirni yang tinggal seorang diri.

Pada suatu ketika Mbok Sirni membelah salah satu timun yang ia tanam, di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan yang cantik, hingga ia namakan Timun Mas.

Timun Mas inilah yang kemudian melawan Buto Ijo yang selama ini menganggu Mbok Srini dan dirinya, hingga Buto Ijo mati.

Pesan moral dari cerita ini adalah jangan pernah berniat jahat terhadap orang lain, karena pada akhirnya, kejahatan itu akan berbalik pada diri sendiri.

3. Batu Menangis

Dongeng ini bercerita tentang kehidupan seorang janda di sebuah desa bersama putri semata wayangnya bernama Darmi.

Meski Darmi memiliki wajah cantik, tapi perilakunya jauh dari indah.

Ia dikenal sebagai gadis yang sangat egois dan tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain, termasuk ibunya sendiri.

Atas sikapnya itu, Darmi berubah menjadi batu yang terus-menerus mengeluarkan air mata.

Baca juga: Ramadan 2025, Siswa SMALA Surabaya Gelar SETARA 2K25 Bersama Anak Panti Asuhan

Cerita ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menghormati dan berbakti kepada orangtua.

Pesan moralnya adalah bahwa perilaku buruk dan ketidakpedulian terhadap orangtua bisa mendatangkan penyesalan yang tidak bisa diperbaiki.

4. Rusa dan Tanduk Barunya

Dongeng ini bercerita tentang kehidupan sekelompok rusa di sebuah hutan.

Sekelompok rusa sedang bermain dengan gembira. Mereka bernyanyi, menari, berlari-lari, dan meloncat dengan penuh kegembiraan. Namun ada seekor rusa jantan bernama Nala yang terlihat sedih.

Ternyata kesedihan Nala bermula saat beberapa hari yang lalu, saat bermain dengan teman-temannya, tanduknya patah.

Rusa bernama Gelatik mencoba menenangkan Nala, hingga Nala kembali tersenyum dan gembira, hingga kembali bergabung dengan teman-temannya.

Ia menyadari bahwa kehilangan sesuatu tidak perlu membuatnya bersedih, karena akan selalu ada yang baru dan lebih baik datang.

Pesan moral dari cerita ini adalah jika kita kehilangan sesuatu yang berharga, jangan bersedih. Yakinlah bahwa sesuatu yang lebih baik akan datang sebagai pengganti.

Baca juga: Hari Dongeng Nasional, UC Surabaya Luncurkan Komik Online A Day With Yucca

5. Pinokio si Boneka Kayu

Dongeng ini bercerita tentang seorang pria tua bernama Kakek Gepeto yang tinggal sendirian dan bekerja sebagai pengukir kayu.

Suatu hari, ia memutuskan untuk membuat sebuah boneka kayu yang diberi nama Pinokio. Angan-angannya, boneka itu bisa hidup dan menjadi anak laki-lakinya.

Sungguh ajaib, Pinokio ternyata bisa bergerak dan berbicara. Bahkan memanggil Kakek Gepeto dengan panggilan ayah.

Dalam perjalanannya, Pinokio ternyata pandai berbohong, hingga hidungnya memanjang.

Hukuman dari peri membuat Pinokio berubah menjadi anak laki-laki sungguhan dengan kejujuran.

Pinokio dan Kakek Gepeto pun hidup gembira, dan bahagia.

Pesan moralnya adalah, siapa pun yang mengedepankan kejujuran, akan menemukan kegembiraan dan kebahagiaan.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait