F-PKS saat menerima aduan kader kesehatan/foto:Mili/roy
Mili.id - Puluhan kader kesehatan mendatangi Ruang Fraksi PKS DPRD kota Surabaya, mereka mengadukan terkait insentif atau hak mereka.
Rahayu, kader kesehatan Kelurahan Pakis menyatakan, bahwa pihaknya juga telah bekerja sejak Januari dan Februari, secara otomatis sambung dia, para kader menuntut hak seperti yang telah dijanjikan oleh pihak Pemkot.
Baca juga: Suara PKS di Kota Surabaya Meningkat, Reni Astuti: Bentuk Kepercayaan Masyarakat
"Keluhan saya sebenarnya tidak muluk-muluk, intinya menuntut hak kader kader, karena kami sudah dijanjikan dari akhir 2021 bahwa untuk insentif adalah Rp 400, dan masih dipotong pajak. Kami sudah melakukan kegiatan tersebut." kata Rahayu, usai bertemu dengan F-PKS, Selasa (1/3).
Kader Kesehatan Surabaya saat diterima Fraksi PKS
Ia memaparkan tugas kader kesehatan sangat banyak, sehingga dengan kebijakan pembatasan kuota 3 orang, menurutnya perlu dikaji ulang. "Untuk kegiatan posyandu saja kalau February sama Agustus kegiatan nya enggak cukup hanya untuk tiga kader," keluhnya.
Baca juga: Bursa Kerja Assik, DPRD: Bila Fokus Penurunan TPT, Sektor Ekonomi Akan Bangkit
Di samping itu, ia berharap pula kader kesehatan tidak dibatasi usianya. Yakni umur 65 tahun ke atas. Utamanya bagi mereka yang masih ingin bekerja.
"Jangan dibatasi usia hanya 65 ke atas kalau memang enggak aktif monggo, ya mengundurkan diri, tapi kalau yang masih mau bekerja kami mohon supaya dimasukan kembali." bebernya.
Senada dengan itu, Wahyu Sri Andini kader kelurahan Mojo mengaku sangat terkejut dengan pengurangan kader, ia menjabarkan pengurungan kader lebih dari 70% diwilayahnya. Sehingga dari 103 berkurang menjadi 36.
Baca juga: Kasus Gagal Ginjal Akut. Selain Sosialiasi, Hari Santoso Minta Ada Pengawasan Apotek
"Jadi, kader dengan tupoksi 15 pekerjaan yang seperti itu. Kami bekerja 24 jam tanpa ada jam kerja, jam berapapun puskesmas atau keluraha memerlukan data kami siap untuk ngobrak warga, kita garda terdepan dari puskesmas dan kelurahan." ketus dia.
"Jadi istilahnya yang mengetahui segala apapun kampung kita, kami para kader. Jadi kalau tiba tiba istiah seperti ini kami 'geloh (kecewa), kayak enggak diregane gitu." tandasnya.
Editor : Redaksi
