Sumber Mata Air Srono Banyuwangi Tak Pernah Kering Meski Kemarau Mendera

Sumber Mata Air Srono Banyuwangi Tak Pernah Kering Meski Kemarau Mendera © mili.id

Warga mengambil air dari sumber di tanah milik Susiyono di Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono. (Foto: Eko Purwanto/mili.id)

Mil.id - Musim kemarau panjang kerap membawa keresahan bagi sebagian warga Banyuwangi yang sumurnya mulia mengering.

Parahnya, tak jarang mereka sampai harus merogoh kocek lebih untuk membeli air bersih guna kebutuhan mandi cuci kakus (MCK).

Baca juga: Debit Air Menurun Drastis, Enam Kabupaten Jatim Siaga Kekeringan

Hal itu ternyata tak berlaku bagi warga yang mendiami Dusun Pekiringan, Desa Sumbersari, Kecamatan Srono.

Sebab mata air alami yang berada di pinggiran air sungai dusun setempat menjadi pemasok kebutuhan air bersih saat kemarau panjang mendera.

Dari pagi, siang, hingga sore hari, sumber mata air yang berada di atas lahan milik warga bernama Susiyono ini tak pernah sepi dari kunjungan warga.

Tak ada tarif yang harus dikeluarkan saat mengisi botol, galon, maupun jeriken, semua air yang diambil gratis.

Disebut warga, air dari sumber bisa langsung diminum tanpa perlu dimasak, dan sejak kemunculannya pada tahun 1975, kebiasaan minum dari sumber sudah biasa bagi warga bahkan langgeng hingga sekarang.

“Saya lahir tahun 75, tahun 1978 itu satu warga bernama Pak Gimun tetangga saya yang pertama kali coba meminum airnya, ternyata aman,” ucap warga bernama, Nur Jazila, Selasa (8/10/2024).

Dikatakan Jazila, biasanya ia kerap mengambil air sebanyak tiga kali dalam sepekan, dan sekali ambil menggunakan galon isi 20 liter yang diangkut menggunakan motor.

“Saya biasanya tiga hari sekali ambil air di sini. Sekali ambil biasanya dua gallon air mineral itu. Dibawa pakai sepeda motor,” ungkapnya.

Baca juga: “Kemarau 2026 Menguat, Suhu Kian Panas”

Jazila menyebut, meski sumur di rumahnya dalam kondisi normal dan tidak kering, tetapi tetap memilih mengambil air di sumber tersebut karena bisa langsung dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dahulu.

“Hitung-hitung hemat gas (elpiji). Tidak perlu dimasak sudah bisa diminum dan segar airnya,” ucapnya.

Malahan, Jazila mengungkapkan, air yang ia ambil di dalam botol itu pernah ia coba diamkan selama sebulan.

Hasilnya, air itu ternyata tetap jernih dan masih bisa diminum, dan kondisi tidak berlumut.

Pemilik sumber mata air, Susiyono (49), mengatakan mayoritas orang yang mengambil air di sumber tersebut untuk kebutuhan memasak dan minum.

“Kebanyakan dipakai untuk kebutuhan dapur. Jarang yang dibuat kebutuhan mandi,” ucapnya.

Baca juga: Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi Tetap Lestari, Wujud Syukur Warga Osing atas Sumber Kehidupan

Meski begitu, menurut Susiyono yang merupakan pemilik lahan bersumber air itu, ada beberapa orang yang pernah datang ke sumber itu khusus untuk mandi karena dipercaya punya khasiat.

“Pernah ada orang Yosomulyo (Kecamatan Gambiran) datang untuk mandi, dari yang semula sakit stroke, katanya sembuh setelah konsumsi air ini dan mandi di sini,” jelasnya.

Sumber air tersebut, masih kata Susiyono memang cukup unik, karena meski sedang kemarau panjang, air di situ tidak pernah kering.

“Ketika musim hujan lebat airnya juga tetap bening seperti itu, tidak keruh, rasanya juga tetap segar,” ucapnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait