7 Oktober 43 Tahun Lalu, Bung Tomo Meninggal Dunia

7 Oktober 43 Tahun Lalu, Bung Tomo Meninggal Dunia © mili.id

Jasad Bung Tomo tiba di Tanah Air Indonesia (Instagram: @sejarah_bangsa).

Mili.id - Bagi masyarakat Surabaya, siapa yang tak mengenal nama Bung Tomo. Pria yang memiliki nama asli Sutomo ini merupakan tokoh utama dalam pertempuran 10 Nopember 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Bung Tomo yang lahir di Blauran, Surabaya pada 3 Oktober 1920 ini wafat di usia 61 tahun pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, saat menunaikan Ibadah Haji.

Saat itu, Bung Tomo bersama dua menunaikan Ibadah Haji pada tahun tersebut. Namun, tepat di hari ulang tahunnya, 3 Oktober ia tak sadarkan diri di tanah suci.

Menurut hasil pemeriksaan dokter di Rumah Sakit Kerajaan Arab Saudi, Bung Tomo menderita komplikasi hidrasi serta stroke.

Ia sempat dua hari tak sadarkan diri. Setelah siuman, Bung Tomo yang belum sehat maksimal melakukan wukuf di Arafah dengan cara ditandu. Saat itulah pahlawan Nasional ini meregang nyawa.

Butuh Waktu 8 Bulan Jasad Bung Tomo Sampai di Indonesia

Bung Tomo tak seperti jemaah haji pada umumnya yang meninggal di tanah suci, harus dikubur di sana. Ada keistimewaan tersendiri baginya namun itu melalui proses yang sangat panjang.

Setelah wafat ia sempat dimakamkan di sana, jenazah Bung Tomo tidak langsung dibawa ke Tanah Air. Butuh waktu 8 bulan lamanya bagi pihak keluarga dan masyarakat Indonesia harus menunggu kedatangan jenazah sang pahlawan.

Jasad pahlawan Nasional ini bisa pulang ke Indonesia setelah dapat bantuan dari berbagai pihak untuk diplomasi dengan otoritas setempat. Berkat Departemen Luar Negeri dan Fatwa MUI persoalan pemindahan jenazah itu akhirnya mudah.

Putera kedua Bung Tomo, Bambang Sulistomo dengan dua dokter ahli forensik akhirnya terbang ke Mekkah. Beruntungnya, para petugas yang menguburkan jasad Bung Tomo juga dapat ditemukan.

Dijelaskan, jenazah Bung Tomo dalam identifikasi tidak mengalami kesulitan yang berarti. Setelah ditemukan, jenazah kemudian dibawa dan dipulangkan ke Tanah Air. Jenazah Bung Tomo diterbangkan dengan menggunakan pesawat Hercules TNI.

Sesuai wasiatnya, bila ia meninggal tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Pihak keluarga sepakat untuk memakamkan jenazah Bung Tomo di Ngagel Rejo, Jalan Bung Tomo, Surabaya, dengan upacara kemiliteran.

Tahun 2008 Batu Resmi Dikukuhkan Sebagai Pahlawan Nasional

Banyak masyarakat yang percaya bahwa Pertempuran 10 Nopember 1945 adalah ikon revolusi kemerdekaaan Indonesia, sedangkan Bung Tomo adalah ikon dari Pertempuran 10 November 1945.

Namun, peran sentral Bung Tomo itu baru diganjar gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2008. Nama Bung Tomo dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan di Istana Merdeka, Jakarta.

Saat itu, istrinya, Sulistina, yang menerima langsung surat keputusan bernomor 041/T/Tahun 2008 dari Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.m secara langsung.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini, sekaligus mengakhiri polemik berkepanjangan yang sempat muncul saat itu. Pengangkatan ini didasari oleh desakan dari berbagai pihak, termasuk GP Ansor dan Fraksi Partai Golkar DPR.

Usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Bung Tomo pernah disampaikan kepada pemerintah, tetapi tidak mendapat persetujuan. Namun, keluarga besar Bung Tomo di sisi lain juga tidak pernah mempermasalahkan gelar tersebut.

Karir Masa Muda Bung Tomo

1. Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia Kelas I (yang pertama untuk Jawa Timur, sedangkan yang kedua untuk seluruh Indonesia).

2. Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Ranting Anak Cabang di Tembok Duku, Surabaya sekitar tahun 1937.

3. Wartawan lepas Harian Soeara Oemoem di Surabaya tahun 1937.

4. Redaktur Mingguan Pembela Rakyat di Surabaya tahun 1938.

5. Ketua kelompok sandiwara Pemuda Indonesia Raya di Surabaya tahun 1939.

6. Wartawan dan penulis pojok Harian Ekspres di Surabaya tahun 1939.

7. Pembantu koresponden Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta untuk Surabaya di bawah asuhan Anjar Asmara tahun 1940.

8. Wakil pemimpin redaksi Kantor Berita Domei bagian bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya tahun 1942–1945.

9. Pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya tahun 1945.

Karir Bung Tomo di Masa Revolusi

1. Ketua Umum Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) sejak 12 Oktober 1945–Juni 1947 (dilebur di dalam Tentara Nasional Indonesia).

2. Anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Sudirman.

3. Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata di seluruh Jawa dan Madura.

4. Dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI), bersama dengan Jenderal Sudirman, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Soerjadarma, dan Laksamana Nazir. Dia diberikan pangkat Mayor Jenderal TNI Angkatan Darat dengan tugas mengkoordinasikan angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara di bidang informasi dan perlengkapan perang.

5. Anggota Staf Gabungan Angkatan Perang Republik Indonesia.

6. Ketua Panitia Angkatan Darat yang membawahi bidang kereta api dan bus antarkota, dengan tugas mengkoordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah Republik Indonesia (RI) dan bertanggung jawab langsung kepada Panglima Besar TNI.

7. Membuat siaran pengumuman panggilan masuk kemiliteran RI yang pertama.

Baca juga: Kawi Lounge Sheraton Surabaya Manjakan Pecinta Cocktail Premium Eksklusif Malam

Editor : Achmad S



Berita Terkait