Laita Ro'ati Masykuroh saat berlatih. (Laita for mili.id)
Banyuwangi - Sepakbola identik dengan kaum lelaki karena butuh otot dan fisik yang kuat mengolah si kulit bundar. Itu dulu, sekarang sepakbola bertransisi menjadi olahraga yang bisa dinikmati semua kalangan.
Kondisi itu yang kemudian memotivasi dara tomboy, Laita Ro'ati Masykuroh (24), asal Dusun Ringinmulyo, Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi terjun sebagai pemain sepakbola.
Berkat kerja keras dan ketekunannya, Laita kini dipercaya menjadi punggawa timnas sepakbola wanita dibawah asuhan Satoru Mochizuki.
Laita sendiri diplot pada posisi penjaga gawang. Posisi yang selama ini ia tekuni sejak awal merumput sebagai pemain profesional.
Laita menceritakan sekelumit kisahnya awal ia bisa terjun sebagai pemain profesional. Cerita itu ia sampaikan saat menjajal Lapangan Samudera, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, memenuhi undangan sebagai pemain tamu dalam kompetisi tarkam (antar kampung).
Dalam kesempatan itu, perempuan yang baru lulus dari Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Keolahragaan ini, bercerita tentang perjalanannya sampai dipanggil Satoru Mochizuki, kepala pelatih timnas Sepakbola Perempuan Indonesia. Sebelum terjun menjadi pemain profesional, ia memiliki impian untuk berkarir menjadi tenaga kantoran.
Bukan tanpa sebab, Laita sewaktu bersekolah menempuh pendidikan akuntansi di SMKN 1 Tegalsari.
“Saya disekolahkan di Krasak (SMKN 1 Tegalsari) mengambil jurusan Akuntansi, alasannya sederhana, biar ketemu banyak temen perempuan,” ujarnya.
Karena mempelajari ilmu administrasi perkantoran dan akuntansi itu pula, Laita kemudian punya keinginan kuat untuk menjadi seorang pegawai kantoran.
“Ini didukung orang tua, orang tua juga pingin saya kerja di kantor,” ucapnya.
Laita turut mengurai kisahnya sewaktu masih kecil. Ia mengaku lebih suka bergaul dengan teman laki-laki. Yang turut andil menuntunnya menyukai sepakbola lantaran kerap dimainkan teman sebayanya.
Ia pun tak begitu canggung bila berteman dengan laki-laki. Justru ia mengaku nyaman sehingga julukan tomboy sudah lekat pada dirinya sejak kecil.
Sampai-sampai orang tuanya khawatir karena kerap bergaul dengan laki-laki bukannya perempuan seperti anak perempuan lain.
"Orang tua sempat was-was karena kerap bergaul dan berteman dengan anak cowok," tambah Laita.
Cerita menjadi pegawai kantoran kemudian ia selipkan kembali dalam bincang-bincang singkat itu. Ia mengatakan, jika niatan itu urung lantaran selepas lulus SMK, ia memilih kuliah di Universitas Malang dengan mengambil Jurusan Keolahragaan.
“Pas kelas tiga, saya akhirnya ambil olahraga karena Akuntansi bikin pusing,” katanya sambil tertawa.
Karena kuliah di jurusan itu pula, Laita lebih sering bersinggungan dengan dunia si kulit bundar. Puncaknya, pada 2019 bergabung dengan tim futsal kampusnya.
Saat ikut futsal itu, Laita langsung berposisi sebagai kiper. Kemampuannya menghalau bola masuk ke gawangnya, terus terasah hingga akhirnya banyak tim amatir di Malang mengajaknya berlatih.
“Dulu saya ikut tim namanya Banteng Muda,” paparnya.
Terus berlatih, Laita bertekat memoles kemampuanya. Ia terus mencari panggung guna memperbanyak jam terbangnya.
“Sempat ragu karena cuma latihan saja, tidak ada pertandingan, akhirnya semangat lagi karena ketemu tim ini,” ujar perempuan berambut panjang itu.
Di tim ini cewek ini kerap tampil dalam pertandingan persahabatan hingga turnamen. Dan itu membuatnya yakin untuk terjun ke ranah professional.
“Karena memang suka sepakbola, akhirnya diseriusi. Apalagi ketika ikut pertandingan-pertandingan dapat uang,” ujarnya.
Banjir kesempatan unjuk gigi itu juga, membuat namanya banyak diketahui oleh para pemandu bakat tim sepakbola wanita yang ada di Malang. Karena kerap tampil di turnamen besar itulah yang kemudian berujung pemanggilan untuk bermain bersama timnas.
Pemanggilan itu sempat ragu, karena kompetisi sepak bola wanita di Indonesia masih belum berjalan. Tapi tetap dijalani dan bisa memotivasi untuk bias jalan.
“Meski kompetisinya belum ada, PSSI di bawah kepemimpinan Pak Erik Tohir para pemain yakin akan ada titik terang,” katanya.
Saat masuk timnas, kedua orang tuanya sempat kaget karena khawatir akan terus di jalur atlet dan tidak bekerja sesuai cita-citanya dulu. Namun pada posisi ini, orang tua selalu memberikan dukungan terhadapnya.
Saat ini Laita mengaku sedang dalam proses latihan keras di timnya untuk bisa merebut posisi kiper utama timnas Indonesia.
“Sekarang ini saya masih jadi kiper pelapis, target saya bisa jadi kiper utama timnas Indonesia,” pungkasnya.
Baca juga: Marselino Comeback, Ini 23 Pemain Pilihan Timnas Indonesia untuk TC Jelang Piala AFF 2026
Editor : Achmad S
