Pandangan Pengusaha Surabaya Ong Hengky soal SDM hingga Pendidikan di Indonesia

Pandangan Pengusaha Surabaya Ong Hengky soal SDM hingga Pendidikan di Indonesia © mili.id

Pengusaha Surabaya Ong Hengky Ongkywijaya. (Ong Hengky for mili.id)

Surabaya - Indonesia saat ini memasuki usia ke-79 tahun. Artinya, kurang 21 tahun lagi Indonesia akan memasuki usia 100 tahun.

Baca juga: Wujud Kepedulian Dunia Usaha, Kadin Jatim Bagikan Daging Qurban kepada 1.750 Penerima

Lantas, siapkah generasi sekarang menghadapi perkembangan zaman dan tekhnologi di usia satu abad nanti?

Pada dasarnya bibit-bibit unggul itu sudah ada dari sekarang. Anak-anak kecil maupun yang baru lahir tahun ini sudah berada di sekeliling kita.

Merekalah yang akan memimpin bangsa ini di tahun 2045 kelak. Di tangan mereka yang masih bayi dan anak-anak sekarang inilah, masa depan dan nasib bangsa ini dipertaruhkan.

Lalu apa saja yang harus kita siapkan di tahun ke 100 bangsa Indonesia nanti?

Pengusaha Surabaya, Ong Hengky Ongkywijaya memberikan pandangan bagaimana kita menghadapi 100 tahun Indonesia dan bagaimana kita mengelola Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ini.

Nama Ong Hengky Ongkywijaya dikenal sebagai seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang import alat berat. Meski warga keturunan, namun Ong Hengky dilahirkan di Indonesia dan dia sangat mencintai Indonesia.

Kecintaannya terhadap Negara Indonesia sangat besar. Hal itu juga dia tanamkan pada anak-anaknya. Meski tiga putranya lulusan luar negeri, namun dia tak mengijinkan anak-anaknya tersebut bekerja di luar negeri.

"Ilmunya saja yang kita ambil dari luar negeri, namun kita tetap harus mencari nafkah di negeri sendiri. Indonesia adalah negara luar biasa, sumber daya alamnya melimpah, negaranya juga luas. Jadi kita harus bisa memanfaatkan kondisi Indonesia yang begitu luar biasa ini untuk kita olah sendiri," kata Ong Hengky, Kamis (26/9/2024).

Pria kelahiran Surabaya tahun 1965 silam ini mengatakan bahwa manusia hidup selalu akan berupaya untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.

Sebenarnya, kekayaan alam Indonesia bisa dijadikan inspirasi masyarakat Indonesia terutama generasi muda untuk menjadi lebih baik terutama dari sisi ekonomi.

"Banyak kekayaan alam yang sudah diberikan Tuhan sesuai dengan potensinya dan sesuai dengan kebutuhan daerah, namun kenapa masih banyak daerah yang masih belum bisa mengelola," jelas Ong Hengky.

Dia mencontohkan, pulau Sumatera yang begitu luas dan tentunya dengan kekayaan alam yang begitu melimpah. Namun, tak banyak masyarakat Indonesia yang bersedia untuk menetap di pulau Sumatera. Semua masih berpusat di Jawa.

"Ini karena pengelolaan sumber daya alam yang kurang. Artinya SDM-nya yang masih belum tersebar secara merata di pulau-pulau yang ada di Indonesia," ungkapnya.

Ong Hengky menyebut, meski memanfaatkan hasil alam namun tidak harus merusak. Seperti penebangan hutan misalnya, dia tidak setuju apabila hutan di Indonesia ditebang untuk pembangunan. Sebab, hutan merupakan suatu paru-paru dunia, menjaga keseimbangan alam.

"Kalau hutan kita ditebang, tentunya ekosistem hutan akan terganggu dan akan terjadi banjir, longsor dan lainnya. Jadi kita memanfaatkan alam tapi jangan merusaknya," tegasnya.

Ong Hengky juga sangat tidak setuju ketika pemerintah membangun jalan tol terlalu banyak namun mengabaikan jalan umum. Mestinya, jalan umum lah yang menjadi prioritas untuk dibangun. Misalnya dengan memperlebar jalan umum baik di desa maupun di kota.

"Saat ini jalan di desa hanya empat sampai enam meter, itu bisa dilebarkan menjadi 10 sampai 12 meter. Sementara jalan antar kota saat ini hanya 10 meter, maka bisa diperlebar menjadi 15 meter atau 20 meter. Ini sangat penting untuk distribusi logistik dari desa ke kota dan sebaliknya dari kota ke desa, dengan biaya yang tentunya lebih murah daripada harus lewat tol," paparnya.

Di sisi lain, Ong Hengky lebih setuju pemerintah berkosentrasi ke masalah pendidikan daripada terus membangun jalan tol. Sebab, pendidikan ini mencakup hajat hidup orang banyak.

"Lebih baik membebaskan biaya mulai dari pendidikan dini sampai ke SMA. Tentu itu lebih baik dan lebih tepat sasaran," pungkasnya.

Baca juga: SPMB 2026, DPRD Surabaya Tegaskan Tak Boleh Ada Anak Putus Sekolah

Editor : Achmad S



Berita Terkait