Psikososial Anak-anak Korban Gempa Bawean oleh Puskris Kesehatan dan Mandalawangi

Psikososial Anak-anak Korban Gempa Bawean oleh Puskris Kesehatan dan Mandalawangi © mili.id

Puskris dan Mandalawangi memberikan program psikososial di Pulau Bawean (Foto: Puskris for mili.id)

Gresik - Hari masih pagi ketika 100-an anak berkumpul di halaman Madrasah Miftahul Huda, Desa Kepuh Legundi, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik, Sabtu (30/3/2024).

Wajah mereka memperlihatkan bermacam perasaan yang umum ditemui pada anak-anak. Ada yang bercanda dengan sekelompok temannya, ada yang ngobrol serius, ada yang duduk diam sambil tersenyum ketika disapa. Ada pula yang memandang dengan tatapan kosong.

Baca juga: Haul ke-71 Habib Abu Bakar Assegaf Siap Digelar, Ratusan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Gresik

"Dari berbagai kejadian bencana, efek psikologis selalu ada pada anak-anak walaupun tidak terlihat secara langsung. Untuk mengurangi tekanan batin baik yang terlihat maupun tidak terlihat ini, kita memang perlu bergerak untuk membantu mereka," terang Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, Sumarjaya.

"Selain menenangkan diri, juga mengedukasi apa saja yang perlu dilakukan saat terjadi bencana seperti gempa yang melanda Pulau Bawean beberapa waktu lalu," tambahnya.

Sumarjaya menyebut, upaya mengatasi gangguan psikologis atau mental health yang biasa disebut trauma healing ini umumnya dilakukan tak lama setelah terjadi bencana.

Gangguan psikologis seperti cemas dan panik dapat muncul akibat lemahnya ketahanan mental yang dimiliki individu. Karenanya program psikososial menjadi sangat penting diadakan di lokasi bencana.

"Berbagai upaya dapat dilakukan untuk membuat anak-anak korban gempa ini kembali bersemangat menjalani hari. Puskris bekerjasama dengan gerakan Mandalawangi Peduli turun ke lapangan dengan menggelar serangkaian kegiatan agar trauma pasca bencana dapat terobati," jelasnya.

Puskris dan Mandalawangi memberikan program psikososial di Pulau BaweanPuskris dan Mandalawangi memberikan program psikososial di Pulau Bawean

Baca juga: Mengenang KH Umar Al Faruq, Sang Ulama Sepuh yang Memilih Bersembunyi dari Kemasyhuran di Randupadangan

Melalui Program Tenaga Cadangan Kesehatan Puskris bekerjasama dengan Mandalawangi Peduli menggelar kegiatan di 6 desa di Pulau Bawean, yaitu Desa Kotakusuma dan Dekat Agung di Kecamatan Sangkapura, serta Desa Kepuh Legundi, Ponggo, Klumpang Gubuk dan Grejeg di Kecamatan Tambak.

Peserta di masing-masing titik kegiatan berkisar antara 80 sampai 130 anak. Acara diawali dengan menyanyi bersama, berbagi cerita, mendongeng, berjoget, menggambar dan diakhiri dengan berdoa.

"Dengan kegembiraan yang muncul di acara yang didukung penuh oleh PT Semen Indonesia Tbk ini, keceriaan hidup mereka dapat kembali setelah tekanan jiwa yang tinggi. Semoga ke depannya mereka tidak takut lagi beraktivitas secara normal walaupun tidak bisa melupakan kekhawatiran berulangnya gempa yang membuat rumah-rumah rusak bahkan ambruk," sambung Ketua Mandalawangi Peduli, Rahmi Hidayati.

Rahmi mengatakan bahwa sampai saat ini masih banyak masyarakat Bawean termasuk anak-anak yang takut masuk ke dalam rumah. Mereka memilih tidur di teras dan halaman rumah beralas tikar dan bertudung terpal.

Baca juga: Polres Gresik Raih Juara 1 Video Rampcheck Terbaik se-Jatim, Bukti Komitmen Keselamatan Lalu Lintas

Masuk ke rumah hanya untuk masak dan mandi serta buang air. Hal ini disebabkan rasa cemas yang berlebihan apabila bencana tersebut terulang kembali.

"Untuk mengurangi kekhawatiran tersebut, disosialisasikan pula cara-cara melindungi diri saat gempa terjadi. Misalnya, tidak usah panik, berlindung di bawah meja, dan jauhi kaca. Bila memungkinkan, segera lari ke luar rumah menuju lapangan terbuka. Edukasi ini penting, mengingat getaran akibat gempa dirasakan setiap hari dengan berbagai frekuensi," jelasnya.

Rahmi menambahkan, trauma healing menjadi langkah rehabilitasi yang tepat bagi korban bencana untuk bisa menyembuhkan diri dari kondisi yang menyedihkan pasca bencana.

"Diharapkan mereka tidak lagi larut dalam kekhawatiran dan kesedihan," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait