Ilustrasi (Foto: Freepik)
mili.id - Jepang merupakan salah satu negara yang sangat menjunjung tinggi tradisi leluhurnya. Negara ini memiliki berbagai tradisi dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya harakiri.
Harakiri berasal dari dua kata, hara berarti perut dan kiri berarti merobek atau memotong. Jadi, Harakiri merupakan ritual menusukkan pisau ke perut. Namun, masyarakat di sana lazim menyebut harakiri dengan seppuku sebagai kata ganti.
Baca juga: Bandara Pokémon Pertama Dunia Hadir di Jepang, Jadi Destinasi Wisata Imersif Mulai Juli 2026
Biasanya, ritual ini hanya dilakukan para pendekar samurai ketika kalah dalam pertempuran melawan musuh. Para pendekar samurai menggunakan tanto (katana kecil) untuk merobek perutnya sendiri.
Tradisi harakiri sudah lahir dari abad ke-12. Pada awalnya, kebiasaan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk seorang pendekar samurai dan orang-orang dari kelas atas untuk menebus kejahatannya, mendapatkan kehormatan yang hilang, atau menghindarkan diri dari penangkapan yang memalukan oleh musuh.
Alasan bagian perut menjadi pilihan untuk dipotong, yakni banyak dari orang Asia kuno yang percaya bahwa jiwa dan pikiran seseorang beristirahat dalam perut dan bukan pada otak. Karena itu, perut harus dipotong agar jiwa tersebut terbebas.
Ritual Sebelum Harakiri
Ritual dimulai dengan samurai yang dimandikan dengan berpakaian kimono putih dan dilayani dengan menu favorit sebagai makanan terakhir, serta diberi waktu sejenak untuk menulis puisi kematiannya.
Baca juga: Polda Metro Jaya Selidiki Isu Dugaan Jaringan Pedofilia WN Jepang di Blok M
Dia akan dipersilakan duduk di tempat yang ditunjuk dengan posisi seiza (bersimpuh). Sebuah gelas sake, setumpuk washi (kertas buatan tangan dari kulit kayu mullberry) dan alat tulis, serta tanto diletakkan di meja kayu dan berada di depan pelaku seppuku.
Pelaku akan meminum sake dua kali masing-masing dua tegukan. Satu tegukan untuk keserakahan, ketiga tegukan lainnya untuk keraguan.
Total empat tegukan, atau shi (empat) dalam Bahasa Jepang yang melambangkan kematian. Setelah itu, dia akan menulis wasiat terakhir dengan anggun dan natural, seolah tanpa peduli bahwa dia akan mati.
Baca juga: Indonesia Fair 2026 Nagoya Jadi Ajang Promosi Ekonomi Kreatif dan Budaya Indonesia
*Informasi di atas tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasi ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Editor : Narendra Bakrie
