KMP Tampomas II terbakar (istimewa)
Surabaya, mili.id - Tepat pada 27 Januari 1981 atau 44 tahun lalu, sebuah Kapal Motor Penumpang (KMP) Tampomas II, mengalami kebakaran dan tenggelam di sekitar Kepulauan Masalembo atau di laut Jawa.
Kapal yang dinahkodai Kapten Abdul Rivai ini tenggelam di koordinat °25′60″BT — 5°30′0″LS Laut Jawa, yang termasuk ke dalam wilayah administratif Provinsi Jawa Timur.
Ribuan orang dikabarkan tewas dalam insiden kapal yang menempuh perjalanan dari Jakarta dan hendak menuju ke Sulawesi tersebut. Namun, ditengah perjalanan kapal itu terbakar lalu karam.
Kronologi Tampomas II Terbakar di Laut Lepas
KMP Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjung Priok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang. Sejatinya, perjalanan memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut. Sehingga, diperkirakan pada hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB KMP Tampomas II akan tiba.
Sebelum bertolak, seorang pemandu kapal menyebutkan bahwa salah satu mesin kapal telah mengalami kerusakan. Kapal ini membawa puluhan kendaraan bermotor termasuk mesin giling, dan lain-lain yang diletakkan di Cardeck.
Berdasarkan Data Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 Mobil dan 200 Motor di atas kapal. Dalam Pelayaran tersebut, sebanyak 1055 penumpang terdaftar dan 82 awak kapal. Estimasi total ada 1442 penumpang, termasuk penumpang gelap yang saat itu masih marak.
Pada 24 Januari malam tidak terjadi apa-apa, namun diakui ombak Januari memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain, ombak setinggi 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knot sangat wajar terjadi.
Pada 25 Januari Malam, sekitar Pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, lalu ada puntung rokok penumpang yang berasal dari ventilasi menyebabkan percikan api, dan membuat KMP Tampomas II kebakaran.
Para kru melihat dan mencoba memadamkannya menggunakan tabung pemadam portabel, tetapi gagal. Api semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati, dan generator darurat pun gagal (Failure).
Usaha pemadaman pun dihentikan karena sudah tidak memungkinkan. Ditambah dengan bahan bakar yang ternyata masih terdapat disetiap kendaraan, menyebabkan api merambat dan membakar semua dek dengan cepat.
30 menit setelah api muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci. Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1 pintu menuju dek atas. Begitu berada di dek atas, para ABK dan Mualim Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi sekoci.
Beberapa ABK malah dengan egois menurunkan sekoci bagi dirinya sendiri. Dari 6 sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian penumpang nekat terjun bebas ke Laut, dan sebagian lagi menunggu pertolongan selanjutnya dengan kondisi kepanikan.
Tanggal 26 Januari pagi, Laut Jawa dilanda hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar ke ruang mesin dan menyambar bahan bakar yang tidak terisolasi. Kemudian tanggal 27 Januari pagi, terjadi ledakan di ruang mesin dan membuatnya penuh oleh air laut.
Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, yang mengakibatkan kapal miring 45 derajat. Akhirnya pada tanggal 27 Januari 1981 sekitar pukul 12.45 WIB (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya.
Korban KMP Tampomas II
Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 2.174 orang, ditambah dengan 107 awak kapal. Namun diperkirakan keseluruhan penumpang berjumlah 812 orang, termasuk penumpang gelap.
Sebuah sumber menyebutkan jumlah penumpang gelap sekitar 307 orang. Tim penyelamat memperkirakan 1.217 orang tewas, rinciannya 612 mayat ditemukan dan 411 orang hilang bersama kapal, sementara 703 orang berhasil diselamatkan.
Sumber lain menyebutkan angka korban yang jauh lebih besar, hingga 822 orang tewas. Dari catatan kapal tangker Istana VI berhasil menyelamatkan 144 penumpang Tampomas dan 4 jenazah, sementara KM Sengata menyelamatkan 169 orang dan 2 jenazah.
Kapal lain, KM Sonne mencatat telah menemukan 29 Mayat termasuk mayat Nakhoda KMP Tampomas II Kapten Abdul Rivai. Odang Kusdinar Markonis KM Tampomas II selamat, ia ditemukan bersama 62 penumpang dalam sekoci di dekat Pulau Duang-Duang Besar, pada hari Jumat 30 Januari 1981 pukul 05.00 WIB.
Hasil Penyelidikan Pemerintah
Saat itu, Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam konferensi pers di kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal yang abnormal di ruang mesin. Kelainan terjadi pada ruang geladak kendaraan, khususnya pada kendaraan roda dua yang terletak di sebelah belakang.
Karena guncangan gelombang laut yang cukup kuat memungkinkan untuk timbul percikan api dan menyebar. Masinis III Tampomas II Wishardi Hamzah mengatakan bahwa Tampomas II tidak memiliki sistem pendeteksi asap.
Penyelidikan yang dipimpin oleh Jaksa Bob Rusli Efendi Nasution sebagai kepala Tim Perkara tidak memberikan hasil yang berarti, sebab semua kesalahan ditudingkan kepada para awak kapal.
Hingga ada kesan bahwa kasus ini dengan sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah saat itu, meskipun banyak suara dari parlemen yang menuntut pengusutan yang lebih serius.
Baca juga: MYZE Hotel Sumenep Gelar Nobar Piala Dunia 2026 Gratis
Editor : Achmad S
